Revisit Telaga Ngebel Ponorogo

"Ren kamu besok Sabtu pas liburan Idul Adha pulang?" sebuah SMS dari temenku muncul di layar HP siang itu. Spontan aku jawab ala kadarnya saja dengan karakter "Y". Aku memang merencanakan pulang kampung lagi ke Ponorogo menjelang Idul Adha besok. Sekian detik kemudian SMS balasan aku terima "Ayo mbolang ke Ngebel hari Sabtu, di rumah mbambung gak ada kerjaan." Haduh, nih orang mesti ngajak muter-muter gak jelas tiap kali kami berdua sama-sama berada di kampung halaman.

Awalnya sih aku agak males juga diajak keluar, apalagi ke Telaga Ngebel. Secara, Ngebel kan udah mainstream di telinga orang Ponorogo, ditambah lagi banyak orang bilang kalo disana itu isinya kebanyakan ababil yang berdua-duaan gak jelas. Tapi akhirnya karena gak ada kerjaan juga di rumah waktu itu, aku ngikut juga.

Singkat cerita hari Sabtu(04/10) akhirnya aku berangkat dari rumah sekitar jam 3an sore karena seharian sepeda motor dipake Bapak. Sampai rumah temanku di Kutu Kulon aku berhenti untuk menjemput temenku itu. Dengan berboncengan menggunakan motorku, kami langsung berangkat ke arah Ponorogo kota dulu karena aku harus ngambil banner pesenan bapak di percetakan selatan bunderan Ngepos.

Setelah itu langsung cus ke arah timur menuju Telaga Ngebel. Dari kota aku lewat jalan Niken Gandini depan SMK-ku dulu, kemudian di pertigaan Ngrupit belok kiri. Selanjutnya tinggal nurut sama jalan dan rambu-rambu yang ada nanti pasti akan tiba di tempat.

Rute ke Telaga Ngebel dari pusat Kota Ponorogo

Telaga ngebel ini jaraknya sekitar 30 km dari pusat kota atau kalau naik motor bisa ditempuh dalam waktu 30-45 menit saja. Beruntung akses jalan yang ditempuh sudah teraspal dengan cukup baik walaupun pas aku lewat saat itu ada beberapa titik yang sedang dalam pengecoran untuk pengerasan jalan. Applause buat pemerintah kabupaten yang concern dengan akses menuju wisata andalannya ini.

Sepanjang perjalanan terutama selepas kecamatan Jenangan, pemandangan indah dari deretan pegunungan di lereng gunung Wilis(Liman) seakan membius mata untuk melihatnya. Vegetasi lebat yang didominasi pohon jati terlihat banyak yang sedang mengering di tengah musim kemarau ini. Suhu udara pun serasa turun sekian celcius ketika semakin menanjak ke atas gunung. Disini bagi yang nyetir sebaiknya fokus saja sama jalan, tidak usah toleh-toleh karena seperti biasa jalannya berkelok-kelok dan beberapa ada tanjakan tajam.

Cukup disayangkan, keindahan pegunungan tadi agak terganggu dengan ditemui banyaknya area penambangan pasir yang terus menggerus lereng. Beberapa bukit malah terlihat tinggal sebela, dan mirisnya tampak rawan sekali terjadi longsor. Eksploitasi besar-besaran sepertinya memang benar-benar terjadi seperti yang sedang marak diperbincangkan di beberapa media lokal.

Setelah pukul 16.15 kami tiba di gapura depan Telaga Ngebel. 8 tahun lalu ketika terakhir kali aku ke Ngebel dengan keluarga saat itu pas tahun baru, aku masih ingat ketika masuk dikenakan biaya retribusi tiga ribu rupiah. Itupun masih harus antre berdesak-desakan dengan pengunjung lain karena padatnya pengunjung saat momen tertentu seperti tahun baru tersebut. Kondisi jauh berbeda terjadi pada saat aku masuk sekarang, tidak ada retribusi apalagi antrean, mungkin karena saat ini memang bukan waktunya orang untuk berwisata ke tempat seperti ini.

Telaga Ngebel sore hari.
TELAGA NGEBEL. Sampai sekarang tetap tidak bisa membayangkan bagaimana bisa puluhan ribu kubik air ini bisa membentuk telaga seindah ini di atas pegunungan. Iya sih, sudah ada legenda “Baru Klinting“ yang secara myte bisa menjelaskannya. Tapi kalau bisa tahu penjelasan logisnya why not? Usut diusut, ternyata air di telaga Ngebel bersumber dari berbagai sumber mata air dari pegunungan yang mengelilinginya, salah satu mata air yang paling deras adalah Kanal Santen.

Seperti biasa kegiatan yang seakan menjadi ritual setelah sampai di Telaga Ngebel adalah mengelilinginya. Di sisi timur telaga berjejer aneka warung, toko dan penginapan yang siap benar terasa. Disana banyak sekali pohon-pohon besar dengan daun-daun rimbun dan akar menjulang di luar tanah sehingga terasa asri sekali.

Dan benar saja seperti dugaan awal, lumayan banyak pemuda-pemudi berdua-duaan di sekitar telaga. Hal lain yang sedikit mengganggu adalah bertebarannya sampah kantong plastik dari pengunjung yang tidak bertanggung jawab dibeberapa titik. Pihak pengelola seharusnya memberikan perhatian lebih terhadap masalah ini.

Kami mengelilingi bibir telaga sepanjang 5 km tersebut sebelum akhirnya memutuskan untuk parkir dengan biaya 1000 rupiah di sekitar panggung utama dimana area tersebut merupakan pusat keramaian. Sebenarnya aku masih agak kesal karena gagal menemukan panganan nangka goreng yang sudah lama aku incar.

Sempat bertemu kawan lama sewaktu aku di SMP 1 Ponorogo dulu, kemudian kami mencari spot untuk duduk. Sembari memandang perahu-perahu kecil yang hilir mudik dan indahnya tengah telaga yang memantulkan cahaya matahari senja. Secangkir kopi good day dan seplastik penuh tempura goreng akhirnya menemani perbicangan ngalor-ngidul kami tentang kuliah, kabar teman-teman dan hal-hal nggak penting lain sore itu.