Lorok : Kota Kecil di Balik Pegunungan dengan Keindahan Pantainya

Lorok. Entah kenapa sejak dulu penasaran banget sama yang namanya tempat ini. Dulu waktu masih imut-imut duduk di bangku STM, guruku pernah cerita tentang daerah yang letaknya di balik pegunungan selatan Ponorogo ini beserta dinamika kehidupan masyarakatnya. Aku coba iseng-iseng browsing daerah yang udah masuk wilayah Kabupaten Pacitan ini. Ternyata muncul banyak sekali artikel perjalanan yang nyeritain tentang Lorok baik yang ditulis oleh orang asal Lorok sendiri maupun dari luar.

Berdasarkan artikel yang ku baca, Lorok ini seperti menyimpan banyak kisah. Akses menuju tempatnya menantang, pantai di sekitarnya keren sampai daerahnya yang walaupun jauh dari pusat kota tapi fasilitasnya sudah cukup lengkap. Semua hal tersebut semakin menambah rasa penasaranku tentang tempat ini dan tentu saja terlintas di pikiranku "Suatu saat aku harus ke sana!". Apalagi aku sebagai orang Ponorogo Selatan, orang yang dari jauh saja sudah banyak yang kesana. Masa aku gak?

Beruntung banget ketika masuk kuliah, dapet teman yang ternyata berasal dari sekitaran daerah tersebut. Wonokarto, Ngadirojo tepatnya. Walaupun ketika aku buka wikipedia Kecamatan Ngadirojo == Lorok, temanku tadi menegaskan kalau yang dimaksud lorok itu sebenarnya daerah kecamatan yang berada di lembah. Sedangkan rumahnya di Wonokarto yang merupakan daerah pegunungan belum bisa dikatakan Lorok.(CMIHW : Correct Me If He Wrong!)

Temanku yang juga tetangga kos tersebut beribu-ribu kali mengajakku ke rumahnya sambil ngiming-ngimingi aku touring ke Lorok dan Pacitan. Dan aku tentu saja mengiyakan. Sayangnya rencana mengunjungi rumah temanku sambil menjelajah Lorok dan Pacitan gagal direalisasikan karena tidak ada personil yang mau diajak. Mungkin karena aku waktu ngajaknya salah, satu minggu pas setelah Lebaran.

Akhirnya di hari terakhir di penghujung 2014, bertepatan dengan libur minggu tenang UAS aku akhirnya berangkat kesana. Aku dari rumahku di Sambit melaju lurus ke arah barat. Sedangkan temanku yang rumahnya Ngadirojo tadi berangkat bareng rombongan temanku STM dari rumahnya yang ada di Ponorogo Kota. Perempatan Balong menjadi titik pertemuan kami. Selanjutnya perjalanan ke arah selatan kami tempuh bersama.

Hal yang agak beda adalah ketika sampai di belokan Slahung, untuk mencapai Lorok kami memilih jalur terus ke selatan, bukan jalur utama ke arah Pacitan kota yang berbelok ke kiri. Jalur terus ke selatan tersebut sebenarnya merupakan jalur alternatif ketika jalur utama terdapat masalah, contohnya ketika terdapat tanah longsor atau ada jembatan yang ambruk seperti beberapa waktu yang lalu. Di tempat ini dramatisnya air hujan mulai berjatuhan dengan derasnya. Lebih dramatisnya aku yang tidak membawa jas hujan. Namun untungnya tertolong berkat jaket anti air yang aku beli di Blok M Jakarta waktu APICTA kemarin.

Setelah melewati daerah Slahung, jalan ke arah rumah temanku di Wonokarto tentu saja mulai berliku dan naik turun. Lebar jalan pun tidak selebar dan semulus jalur utama ke Pacitan. Mungkin lebih baik ini dinamakan jalan desa daripada jalur alternatif. Beruntung ketika kami semakin ke selatan hujan mulai mereda. Sampai di pertigaan Mrayan aku sempat kaget di tempat pedesaan ini ternyata masih ada rambu-rambu penunjuk jalan seperti di daerah kota. Sesuai rambu-rambu tersebut kami belok kanan. Arah kiri akan menuju ke pusat kecamatan Ngrayun, kecamatan paling selatan di Ponorogo.

Sampai daerah Mrayan ini, kondisi jalan masih lumayan bagus dan jarang berlubang. Namun semuanya berubah ketika masuk ke wilayah kabupaten Pacitan. Kondisi jalan mulai tidak bersahabat dan banyak sekali jalan berlubang. Ditambah kondisi setelah hujan yang membuat banyak badan jalan tergenang air. Parahnya lagi di beberapa titik kabut pekat membuat jarak pandang hanya tinggal beberapa puluh meter. Sepanjang perjalanan hutan Pinus yang rindang menjadi pengiring kami. Ditambah vegetasi rerumputan liar yang entah sepertinya tertata menjadi pagar jalan dari awal perjalanan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 s.d 1.5 jam-an kami tiba di Pasar Wonokarto. Agak kaget, di daerah super pelosok seperti ini masih ada aktivitas ekonomi yang ramai. Bahkan terdapat minibus jurusan Wonokarto-Ponorogo dan juga teras BRI disana. Rumah temanku masih terus ke selatan melewati pasar sejauh beberapa km sebelum akhirnya menanggalkan jalan utama masuk ke bawah melewati jalan lereng landai nan licin yang hanya berlapiskan beton kanan kiri. Di beberapa titik bahkan hanya berupa makadam saja. Kami harus super hati-hati melewati jalur ini.

Akhirnya setelah menempuh perjalanan dengan jalur yang tidak manusiawi kami tiba di rumah temanku. Kami mampir sejenak untuk silaturahmi ke keluarga temanku sembari istirahat dan sholat Dzuhur sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Lorok.

Perjalanan dari Wonokarto ke Lorok cukup menyenangkan. Jalannya sudah lumayan mulus dan didominasi turunan karena letak Wonokarto yang ada di daerah pegunungan sedangkan Lorok di daerah lembah. Setelah melewati SMA Negeri 2 Ngadirojo dan SMP Negeri 2 Ngadirojo sekolah temanku dulu, dari jalur atas terlihat hamparan persawahan hijau dan rumah-rumah penduduk diikuti laut biru yang mempesona. "Wah, ini to yang dinamakan Lorok itu? Kota kecil di balik pegunungan."


Lembah Lorok
Tak sampai 45 menit kami berhasil menuruni lereng dan akhirnya sampai di dataran Lorok. Terlihat sekali di tempat tersebut kegiatan ekonomi yang lumayan berkembang. Ada Pasar, SPBU, Toko Handphone, Indomaret dll. Kami berhenti di SPBU untuk mengisi bensin karena setelah ini kata temanku tidak ada lagi SPBU hingga sampai di Pacitan Kota yang jaraknya sekitar 40km-an dari Lorok.

Kami terus ke selatan hingga akhirnya sampai di Jalur Lintas Selatan(JLS) yang baru saja diresmikan Presiden SBY. Kami belok kiri. Sayang waktu kami terbatas, sebenarnya ingin sekali ke kanan dulu, jalur menuju Trenggalek dimana terdapat PLTU Sudimoro yang baru saja dibangun.

Tak lama berkendara, kami sampai di Pantai Taman. Tiket masuk ke pantai ini cukup 3ribu rupiah saja. Suasana pantai tidak terlalu ramai, mungkin karena tahun baru masih besok. Pantai ini memiliki ombak yang cukup besar sehingga tidak cocok untuk bermain anak-anak. Untungnya terdapat alternatif kolam renang yang bisa digunakan bermain anak-anak. Tak hanya pantai, di tempat ini juga terdapat kebun, peternakan sapi dan penangkaran penyu. Pengunjung dapat masuk ke penangkaran penyu dengan cukup membayar biaya masuk 2 ribu rupiah.

Pantai Taman Pacitan

Kami memilih tempat paling barat yang merupakan tempat favorit dimana terdapat muara sungai kecil dan bebatuan karang. Foto-foto sedikit kemudian istirahat sembari melihat keganasan ombak pantai selatan.

Di atas kami, terdapat tebing tinggi menjulang. Dan yang paling mengesankan adalah dari tebing tersebut pengunjung dapat meluncur ke bawah dengan Flying Fox. Usut diusut, flying Fox ini merupakan flying fox tertinggi di Indonesia dan pernah masuk dalam beberapa acara televisi nasional. Tentu saja aku tidak mencobanya karena sejak kecil sudah takut ketinggian. 2 temanku nekat mencobanya. Untuk meluncur menggunakan flying fox tadi dikenakan biaya 25 ribu rupiah per orang.

Puas di pantai Taman kami melanjutkan perjalanan ke barat ke arah Pacitan kota. Melalui Jalan Lintas Selatan yang mulus dan berkelok-kelok, di sepanjang perjalanan sebenarnya banyak sekali pantai yang bisa dikunjungi misalnya pantai Pidakan. Kami berhenti di jembatan Pantai Soge yang merupakan jembatan di atas muara sungai Lorok. Dari sini pemandangan sungai yang berujung ke laut tersebut sangat indah sekali. Tak heran banyak orang yang berhenti hanya sekedar untuk foto-foto.

Jembatan Pantai Soge dengan jalan mulus Jalur Lintas Selatan
Muara Sungai Lorok terlihat dari Jembatan Pantai Soge

Perjalanan kami lanjutkan terus ke arah barat ke Pacitan kota. Dengan Jalur Lintas Selatan yang mulus, perjalanan ke arah pacitan kota cukup ditempuh dalam waktu 30 menitan saja. Sampai di Pacitan kami belok kanan lagi untuk kembali pulang ke Ponorogo melalui jalur utama. Jika dipikir-pikir kembali ke Ponorogo lewat sini memang lebih jauh daripada lewat jalur alternatif Wonokarto. Namun, mempertimbangkan kondisi jalannya kami memilih kembali lewat jalur utama saja.

Sampai di Tegalombo, hujan kembali turun dan kondisi sudah mulai gelap. Kami harus ekstra hati-hati terutama ketika daerah turunan yang licin. Alhamdulillah kami sampai di Ponorogo dengan selamat dengan membawa pengalaman perjalanan panjang mengelilingi wilayah kabupaten Pacitan dari dua jalur yang berbeda. (ren)