Klayar!!! The Most Beautiful Paradise Beach

Niatnya sih gak mau touring lewat gunung-gunung lagi. Tapi apa daya, belum habis lelah touring muter Ponorogo-Trenggalek-Lorog(Pacitan) kemarin, aku kembali diajak mbalik ke Pacitan lagi. Kali ini yang ngajak adalah teman-teman kosku di Surabaya yang pengen diantarin ngeliat rumah salah temanku yang ada di Wonokarto kemarin sekaligus kalau bisa sambil berkunjung ke KLAYAR.
Mendengar kata Klayar aku jadi sedikit tergoda pengen ikut lantaran aku belum pernah ke pantai yang legendaris ini. Tapi kalau dihitung-hitung, pantai Klayar tersebut jaraknya jauh sekali, sekitar 40km arah barat pusat kota. Apalagi kalau harus ke rumah temanku dulu di Wonokarto yang jaraknya 40 km-an ke timur dari pusat kota pacitan. 80 km? WTF!!

Pagi hari, tanpa ada konfirmasi yang jelas sebelumnya teman-temanku tadi yang berjumlah 3 orang  nyampek ke rumahku. Karena sudah dijemput paksa kayak gini, mau tidak mau aku harus ikut dengan mereka. Agak rewel dikit, aku mau ikut asalkan aku tidak bawa motor sendiri karena motorku dipake ibuk pas hari itu. Akhirnya, sekitar pukul 09.30 kami berangkat dari rumahku.

 

Ponorogo - Wonokarto

Sepertinya yang bagian ini gak perlu terlalu banyak aku ceritain, kalian bisa baca di dua artikelku sebelumnya (Menelusuri Jalur Lintas Selatan dari Trenggalek  dan Lorok : Kota Kecil di Balik Pegunungan dengan Keindahan Pantainya). Singkat cerita rombongan teman-temanku tadi agak shock karena jalan yang mereka lewati ternyata bukan jalan utama menuju Pacitan, melainkan jalur alternatif dengan kondisi jalan naik turun dan berlubang disana-sini. Beberapa kali kami harus berhenti, menunggu yang motornya kesulitan ketika jalan menanjak. Aku sih nyante-nyante aja, toh aku dibonceng kali ini.

Sampai di atas(Wonokarto) sekitar pukul 10.30, kondisi langit sudah mendung dan pastinya disini selalu berkabut. Akses jalan menuju rumah temanku yang menyeleweng dari jalur utama tak kalah mengerikan. Alhamdulillah, kami sampai tujuan dengan selamat.

 

Wonokarto - Pacitan Kota

Setelah makan, mecah es degan dan istirahat sebentar, kami mulai mengelist setelah ini mau kemana. Namun, hingga hampir setengah jam tidak ada kata sepakat pantai mana saja yang ingin dikunjungi. Apalagi sampai Klayar yang jaraknya nun jauh disana.

Karena matahari udah hampir di atas ubun-ubun kami langsung saja cus berangkat. Untuk tujuan yang akan dikunjungi kami setuju untuk melihat situasi dan kondisi di lapangan saja. Temanku yang rumahnya Wonokarto tadi selanjutnya ikut rombongan bersama kami dengan membawa motornya sendiri.

Seperti biasa, dari Wonokarto untuk sampai ke pantai selatan, kami harus menuruni jalan pegunungan dulu yang terbilang lumayan ekstrem. Sekitar 45 menitan kami baru tiba di Lorog. Di Lorog ini kami berhenti di satu-satunya SPBU yang ada sekaligus sholat Dzuhur.

Dari lorog, kami memutuskan ke Pantai Taman dulu, pantai dengan flying-fox terpanjang di Indonesia dan juga penangkaran penyunya. Di Pantai Taman ini kami hanya sempat foto-foto doang mengingat jam yang mepet kalau ingin mengejar Klayar.

Selanjutnya satu persatu pantai di pinggir Jalur Lintas Selatan kami kunjungi sejenak, mulai dari pantai Pidakan dengan bebatuannya, Pantai Soge dan Pantai Tawang yang merupakan rumah para nelayan .

Pantai Taman
Pantai Pidakan dengan bebatuannya
Pantai Tawang, rumah para nelayan

Terus ke barat, sekitar pukul 15.00 kami tiba di Pacitan kota. Kami berhenti untuk sholat Ashar dan mampir di Alfamart untuk beli minum.

Pacitan Kota - Klayar

Sampai disini, kami ragu apakah waktu yang tersisa cukup untuk ke Pantai Klayar yang jaraknya masih 40 km-an lagi. Setelah melalui perdebatan yang panjang, akhirnya kami nekat untuk ke Klayar walaupun dari kami berlima tidak ada yang pernah kesana.

Akses menuju pantai Klayar tak sesulit yang aku bayangkan. Petunjuk untuk sampai ke pantai Klayar juga terpampang jelas di setiap perempatan. Pertama, kami melewati jalur provinsi yang menghubungkan Pacitan dengan Solo, Jawa Tengah. Kemudian setelah melewati daerah kecamatan Punung kami berbelok ke kiri.  Dari sini Pantai Klayar masih sekitaran 20 km lagi.

Dari kecamatan Punung, jalan yang dilalui kondisinya ternyata super duper mulus kendati berkelok-kelok. Di daerah sini juga terdapat daerah wisata Gua Gong. Nah, mungkin karena adanya Klayar dan Goa Gong tadi pemerintah setempat benar-benar memperhatikan akses ke dua tempat wisata andalan ini.

Jalan mulus tersebut akhirnya berakhir ketika kami mulai masuk daerah pedesaan di kecamatan Donorojo. Terlihat, banyak wisatawan yang berbalik arah, mungkin karena hari sudah sore.

 

Pantai Klayar

Pas kami tiba di lokasi, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Loket tiket sudah tutup, alhasil kami masuk ke pantai Klayar secara gratis.

Dan, jreng-jreng... akhirnya pantai yang kami impikan ada di depan mata. Dan, sumpah! bisa aku bilang pantai ini bener-bener pantai yang paling keren yang pernah aku kunjungi. Bisa dibilang juga ini baru yang namanya pantai. Tidak menyesal kami jauh-jauh kesini.

Pesona Pantai Klayar dari atas

Hmm, sekali lagi aku bilang pantai ini keren banget. Pohon-pohon kelapa tumbuh di sekeliling pantai. Pasirnya bewarna putih. Ombaknya ganas, tapi ada yang tenang di beberapa titik. Cocok untuk main-main air. Di sisi barat dan timur ada berdiri batu-batu karang keren yang dihempas ganasnya ombak. Tentu saja daerah tersebut merupakan daerah yang berbahaya untuk foto-foto.

Bebatuan di pantai ini kerennya kayak gak nyata
Melihat ke tebing atas, banyak pengunjung yang mengabadikan keindahan pantai klayar dari atas. Disana juga terdapat gazebo yang sepertinya so sweet banget untuk ngeliat sunset.

Agak menyesal, kenapa kami tidak langsung saja ke surga ini tadi. Fajar yang sudah mulai menyingsing akhirnya memaksa kami untuk segera kembali. Ah, ingin rasanya aku kembali ke tempat ini suatu hari nanti.

 

Pacitan Kota - Ponorogo

Kami tiba di Pacitan kota sekitar pukul 18.30, kami berhenti di Masjid Agung Pacitan untuk sholat Magrib sekaligus menunggu sholat Isya'. Kami juga menyempatkan membeli mie ayam+bakso untuk mengisi perut dahulu.

Disini, sepeda motor temanku yang rumahnya Wonokarto tadi sempat mengalami masalah. Kami panik! Pacitan Kota ke Ponorogo masih 3 jam-an lagu. Paling cepat 2 jam-an. Hari juga sudah gelap. Bengkel mana yang buka jam segini. Aku hampir tak bisa membayangkan bagaimana kami bisa kembali ke Ponorogo malam itu juga. Namun alhamdulillah, masalah motor mogok tersebut bisa teratasi dengan dikendarai oleh temanku yang lain.

Untungnya, jalan provinsi yang menghubungkan Ponorogo dan Pacitan dalam kondisi baik. Penerangan jalan yang bersumber dari lampu bertenaga surya juga cukup memadai di setiap tikungan. Sekitar pukul 22.00 kami akhirnya tiba di Ponorogo.

Wah, benar-benar perjalanan yang panjang, kalau dihitung mungkin sudah setara dengan jarak Ponorogo-Surabaya.


Karena hari sudah malam, dan semuanya sudah lelah. Mustahil aku dan temanku yang rumahnya Wonokarto untuk bisa mbalik ke ruma malam itu juga. Akhirnya kami menginap di rumah temanku yang berada di daerah Dengok dan keesokan harinya baru kembali ke rumah-masing. (ren)

Sisa-sisa foto hari ini :


Hmm


Upps, lensa kacamatanya yang sebelah kemana nih? :)