Menelusuri Jalur Lintas Selatan dari Trenggalek

Untuk liburan kali ini, jauh-jauh hari aku dan salah satu temenku di STM dulu telah merencanakan menjelajah suatu tempat. Awalnya kami tidak punya bayangan mau kemana, namun pada akhirnya pantai-lah yang terpilih menjadi tujuan kami. Karena Pacitan sudah terlalu mainstream dan baru aja aku kesana, maka kami putuskan untuk ke Trenggalek.

Ponorogo - Trenggalek

Berangkat pukul 11 siang dengan mengendarai motor, kami cus ke arah timur melewati Sawoo dimana terdapat jalan provinsi yang menghubungkan Ponorogo dan Trenggalek. Walaupun rute Ponorogo-Trenggalek berkelok-kelok lantaran melewati pegunungan, kondisi jalur Ponorogo-Trenggalek saat ini lumayan bagus dan rame. Di jalur ini, sering kali kami menyalip truk-truk besar seperti truk pasir dan pertamina.

Sekitar 45 menitan dari rumahku yang ada di Sambit, kami akhirnya tiba di pusat kota Trenggalek. Kami parkir di Alun-alun Trenggalek untuk beristirahat sekaligus sholat Dhuhur di masjid yang terletak di barat Alun-alun.

Sampai disini, kami sebenarnya masih belum mempunyai tujuan yang jelas mau ke pantai mana. Apakah prigi, popoh, pasir putih atau pelang? Setelah berunding sebentar, akhirnya kami memilih Pantai Pelang. Karena belum satupun dari kami yang pernah kesana, kami bertanya kepada salah satu tukang parkir di alun-alun mengenai arah ke pantai pelang.

Si tukang parkir ini kelihatan agak kaget ketika kami tanya, "Masih sangat jauh dek, 1 jam'an lah, dari sini kalian terus ke selatan, nanti lampu merah kedua belok kiri dan ikuti saja jalannya, udah enak kok jalannya", jawabnya ringan.

Kami semakin penasaran dengan pantai Pelang ini, sejauh apakah pantai ini? Bukannya kalau dari Trenggalek ingin ke Pantai seperti Popoh atau Pasir Putih nggak jauh-jauh amat.

Trenggalek - Pantai Pelang
Dengan kecepatan standar, kami mengikuti jalur yang disebutkan oleh tukang parkir tadi. Dan benar saja, ternyata jarak yang ditempuh sangat-sangatlah jauh. Bisa jadi jaraknya hampir sama kalau kita dari Ponorogo ingin ke Pacitan.

Kami harus melewati kecamatan Dongko yang terletak di atas pegunungan kemudian menuruninya hingga akhirnya sampai di Kecamatan Panggul. Baru tersadar kalau jalan yang kami lewati ternyata termasuk dalam proyek Jalur Lintas Selatan(JLS) sehingga jalan yang dilalui sudah sangat bagus. Rambu-rambu yang ada di perjalanan juga sudah sangat jelas, sehingga sama sekali kami tak takut nyasar. Sepanjang perjalanan, indahnya pegunungan kidul tak henti-hentinya menemani perjalanan kami.

Sekitar pukul 02.30 kami baru tiba di Pantai Pelang. Pantai ini letaknya agak masuk 5 km dari jalur utama. Agak kecewa, tiket masuk ke pantai ini sangatlah mahal. Padahal kami datang pada hari biasa, untuk dua orang saja kami dikenai tiket masuk 17.000 rupiah. Hmm, ada sedikit kejanggalan disini pikirku.

Lupakan soal tiket masuk tadi, kami lalu masuk kawasan Pantai Pelang. Tak seperti pada pantai lainnya, lokasi parkir ternyata tak bisa sampai bibir pantai. Kami harus berjalan menyusuri jalan setapak melewati kumpulan tanaman bakau.

Dan Yeee... akhirnya kami tiba di Pantai ini. Tepat di tengah pantai berdiri seonggok besi besar yang menurutku itu adalah pemecah ombak. Tak habis pikir, bagian atas besi baja tadi ada yang jebol. Berarti ombak disini memang benar-benar ganas. Pantes saja, sampai ada batu karang yang bertuliskan "DILARANG MANDI".

Pantai Pelang

Pemecah ombak di tengah-tengah pantai pelang.

Di sebelah barat pantai terdapat pulau karang yang dipenuhi dengan tumbuhan hijau. Di atas pulau karang tadi, banyak burung-burung putih yang hinggap, entah burung apa itu namanya. Menurutku, keberadaan pulau kecil ini merupakan bagian paling keren dari Pantai Pelang ini.


Ombak yang bergemuruh menyesaki tebing dan pulau karang
Tak berlama-lama, kami memutuskan untuk segera pergi dari pantai ini agar tidak kemalamam sampai di rumah. Usut diusut, di kawasan ini ternyata juga ada air terjun, sayang kami tidak mengetahuinya sebelumnya.

Pantai Pelang - Lorog
Aku cek di Google Maps keberadaanku sekarang. Ternyata jika ditarik garis lurus ke utara, lokasi pantai pelang ini sejajar dengan Ponorogo. Berarti dari tadi aku dan temanku memutari pegunungan yang ada di selatan Ponorogo. Kagetnya lagi, Pantai Pelang yang berada di Desa Wonocoyo Panggul ini lokasinya juga tak jauh dari Lorog Pacitan, daerah yang aku kunjungi beberapa waktu yang lalu. (Baca : Lorok : Kota Kecil di Balik Pegunungan dengan Keindahan Pantainya )

Enggan balik lewat jalur Trenggalek yang sangat jauh, kami memutuskan kembali ke Ponorogo melewati Lorog. Dari Panggul berarti kami tinggal mengikuti Jalur Lintas Selatan yang ada ke arah Barat.

Melewati tugu "Selamat Datang di Pacitan", kami memasuki kecamatan Sudimoro. Disini terdapat PLTU yang baru saja beroperasi yaitu PLTU Sudimoro. Sayang sekali fotoku dengan latar belakang PLTU ini rusak, mungkin karena salah mode dalam motretnya.

PLTU Sudimoro
Sekitar pukul setengah 4, kami tiba di Lorog. Kami berhenti sejenak di Indomaret kota kecil ini untuk membeli minum dan roti. Semenjak berangakat, kami memang belum sempat minum dan makan.

Lorog - Ponorogo
Perjalanan ekstrem pun dimulai, kami harus naik ke pegunungan lagi melewati dua desa yaitu Nogosari dan Wonokarto. Jalannya sempit ditambah dengan banyak tanjakan yang terjal, beberapa kali motor maticku hampir tidak kuat untuk menanjak walaupun sudah tancap gas penuh. Berkali-kali temanku sampai mengucap istighfar.

Suasana tambah horor dimana dari bawah terlihat awan pekat seperti mau hujan. Kami tidak bawa mantel, waktu juga semakin sore, wah bagaimana ini? Jadi apa ini kalau hujan.

Beruntung, sampai di puncak sekitaran perbatasan Desa Nogosari dan Wonokarto, awan pekat tadi hanyalah kabut yang memang biasa di daerah ini. Kami terus melaju, dan akhirnya tiba di Desa Mrayan, Ngrayun yang sudah masuk daerah administratif Ponorogo. Di jalan ini, petunjuk yang dipasang Polres Ponorogo untuk sampai ke Ponorogo terpampang jelas menuntun kami.

Dari daerah Mrayan ini, bentang alam Ponorogo terlihat sangat indah dari atas. Aku baru menyadarinya kali ini, karena pas ke Lorog beberapa waktu yang lalu, hanya berangkatnya saja yang melewati daerah ini sehingga aku tidak memandang ke arah Ponorogo.

Landscape Ponorogo, dilihat dari Mrayan Ngrayun

Alhamdulillah, sekitar pukul 5an kami sudah berhasil turun dan sampai di Slahung. Disini kami menyempatkan sholat Ashar, sebelum akhirnya balik ke rumah. Perjalanan kali ini bisa dibilang keren dan sama sekali tak terkira. Walaupun dulu di benakku memang pernah tercetus untuk mengitari Ponorogo-Trenggalek-Pacitan(Lorog) dalam satu hari. Benar-benar membongkar penasaran, apa yang ada di balik pegunungan selatan Ponorogo.

Rute yang ditempuh. Ponorogo - Trenggalek - Lorog

 Mungkin setelah ini aku harus absen dulu untuk touring lewat jalur pegunungan lagi. Dua perjalanan kali ini benar-benar sudah membuat aku kenyang dengan daerah di selatan Ponorogo. (ren)