Kapal Selam yang Terdampar di Tengah Kota

Belum puas menjelajah kota Surabaya hanya di museumnya saja, kami secara gak jelas malah maen ke MOKANSEL. Yup, Monumen Kapal Selam.

Tiap orang yang ke Surabaya hampir pasti pernah lihat monumen ini karena letaknya yang berada di jantung kota. Dengan aliran kalimas di sampingnya, monumen ini emang terlihat eye-catching banget. Sayangnya, kebanyakan orang cuma sekedar tahu dan lihat, yang bener-bener main kesini paling cuma segelintir saja. Termasuk aku yang udah hampir 2 tahun di Kota Pahlawan ini, tapi berkali-kali cuma lihat dan lewat doang tanpa sempat mampir.
Monumen Kapal Selam Pasopati 410
Oke balik lagi ke agenda #exploreSurabaya kami hari ini, setelah dari museum Surabaya kami berempat menuju MONKASEL ini. Sengaja kami parkir motordi parkiran mall Delta Plaza yang terletak persis di barat MONKASEL karena pastinya parkir disitu tarifnya lebih jelas. Untuk masuk ke MONKASEL tiap orang kena tiket 10.000 rupiah. Tiket yang lumayan mahal sih menurutku, karena ini kan situs bersejarah yang seharusnya tiap orang berhak tahu apa isinya.

Masuk ke area MONKASEL langsung kami naik ke kapal selamnya. Suer deh, ketika aku pertama kali lihat monumen ini, aku kira monumen ini cuma patung doang, bukan kapal selam yang sebenarnya. Setelah masuk, baru sadar ternyata monumen ini beneran kapal selam dengan berbagai macam peralatan dan ruangan di dalamnya.

Usut diusut, kapal selam ini ternyata bernama KRI Pasopati 410. pada tahun 1950an kapal selam ini memiliki jasa yang besar dalam pembebasan Irian Barat(sekarang namanya Papua). Sayangnya KRI Pasopati 410 berhenti beroperasi dari jajaran TNI-AL pada 25 Januari 1990. Dan setelahnya itu gak tahu bagaimana caranya kapal selam ini bisa terdampar sampai tengah kota kayak gini.

Kapal Selam terdampar di Tengah Kota
Pertama masuk, ruangan yang pertama kami kunjungi adalah bagian depan kapal selam dimana ada peluncur torpedo. Agak masuk ke dalam lagi terdapat tempat dimana para perwira dan awak kapal tidur. Alas tidur tentunya bukan spring bed seperti di hotel, namun berupa lapisan besi bertingkat yang menempel di dinding. Tiap ruangan di dalam kapal selam ini disekat dengan pintu segel putar seperti di film-film.

Bagian dalam Monumen Kapal Selam

Udara pengap sangat terasa di dalam kapal selam padahal pintu kapal dalam keadaan terbuka dan terdapat fasilitas AC. Nggak bisa bayangin gimana rasanya kalau kapal selam ini bener-bener masuk laut dengan oksigen terbatas. Apalagi di kapal selam ini gak ada fasilitas toiletnya. Mungkin aku sejam aja gak bakal bertahan di dalamnya.

Ruangan yang paling menarik adalah ruangan kendali dimana terdapat teropong yang bisa melihat keadaan di atas kapal selam. Di ruangan ini banyak pengunjung yang antre ingin mencoba teropong tersebut. Aku pun penasaran ingin mencobanya. Aku kira, gambaran yang terlihat di teropong jernih dan bening, ternyata agak kusam dan kurang jelas. Mungkin karena lensa yang digunakan sudah tua. Dengan teropong tersebut, kita bisa melihat ramainya Jalan Pemuda yang berada di depan MONKASEL.
Skip saja foto ini
Setelah puas foto-foto di dalam kapal selam, kami berkeliling di sekitar area monumen. Di sebelah barat ada toko-toko kecil yang menjual jajanan. Di sebelah utara terdapat kolam renang khusus anak yang lumayan ramai. Sepertinya anak-anak itu lebih seneng main di kolam renang tersebut daripada masuk ke kapal selam. Kami lebih memilih duduk di gazebo yang terletak di pinggir Kalimas. Istirahat sambil ngelihatin aliran sungai Kalimas yang lumayan bersih dan hiruk pikuk jalan raya di seberang rasanya sungguh menenangkan sekali.
Abaikan orangnya
Sebelum pulang, kami mampir ke Taman BMX yang tak jauh dari MONKASEL. Di taman yang biasanya komunitas skateboard dan acrobat bikers ngumpul ini terdapat patung Suroboyo besar. Dan pastinya, patung yang merupakan ikon kota tersebut wajib dijadikan background foto sebagai bukti pernah di Surabaya.
Keren kan? patungnya maksudnya. wkwkwkw