Nostalgia Soerabaja Tempoe Doeloe di SIOLA

Niat awal sih pengen ikut makan gratis di acara peringatan ulang tahun Surabaya di Balai Kota. Namun, karena datangnya telat akhirnya gak kebagian tuh makanan. Padahal event tahunan Kota Surabaya ini udah lama kami incer.

Buat ngobati rasa kesel, teman-teman sekelasku ngajak muter-muter Kota Surabaya aja. Awalnya kami bingung mau kemana. Setelah ngobrol-ngobrol dikit akhirnya kami putuskan untuk ke museum yang lagi hits saat ini karena baru aja diresmikan bu Wali Kota yaitu Museum Surabaya.
Karena tadi belum sempat makan, sebelum ke museum kami mampir dulu ke pusat makanan(lupa namanya) di seberang Masjid Muhajirin Surabaya. Sebenarnya di pusat makanan ini yang terkenal adalah Wafflenya, namun kami gak pesen itu. Ngeliat menu di meja yang mahal-mahal. Aku dan salah satu temenku pesen makanan paling murah disitu, yaitu mie goreng indomie. Sedangkan minumnya nyoba yang agak mewah dikit, es pisang ijo dan es palu butung.

Oke, setelah makan baru ke Museum Surabaya. Museum ini lokasinya di pojok perempatan antara jalan Genteng Kali dan jalan Tunjungan. Lebih tepatnya sih di gedung yang pernah menjadi pusat perbelanjaan terbesar di kota Surabaya yaitu SIOLA. Awalnya sih kami gak yakin kalau museum Surabaya itu lokasinya benar-benar disitu, karena dari seberang jalan yang terlihat hanyalah bangunan tua yang gak terawat. Baru setelah tanya tukang parkir di sebelah gedung tersebut kami yakin kalau memang ada Museum Surabaya disitu.

Museum Surabaya
Masuk ke dalam gedung, ternyata bagian yang menjadi museum hanyalah sebagian dari lantai dasarnya saja, bukan keseluruhan gedung. Untuk memasuki wilayah museum, kami tidak dikenakan biaya sepeserpun alias gratis. Kami cuma diharuskan absen di buku tamu yang saat itu dijaga petugas

Di bagian depan area museum kami disambut deretan foto Walikota Surabaya dari zaman entah kapan hingga foto walikota yang sedang menjabat sekarang. Dari belasan foto yang terpajang tersebut hanya ada satu foto perempuan yang letaknya pun nyempil terakhir dari deretan foto lain.  Hmm,  siapa lagi kalau bukan Bu Risma. Dengan demikian berarti beliau adalah Wali Kota perempuan pertama di Surabaya. Keren!

Secara umum museum ini berisi barang-barang peninggalan kota Surabaya tempo dulu. Ada manuskrip-manuskrip tua yang masih pake bahasa Belanda, mebel-mebel bekas kursi pejabat, mesin-mesin ketik manual, mikroskop tua sampai lonceng pun ada. Di dinding museum terpampang beberapa lukisan tempat-tempat di Surabaya. Selain itu, beberapa benda seni seperti aneka macam wayang juga ada disini. Di dekat pintu kaca luar, ada Bemo kayak bemo-bemo di Jakarta yang sepertinya sekarang udah gak ada lagi di Surabaya.

Salah satu Manuskrip di Museum Surabaya
Kursi-kursi dan menja yang dulu dipake Pemkot

Lukisan-lukisan tentang Surabaya Tempo Dulu
Entah gimana, nih Bemo nyasar kesini
Mesin-mesin ketik tua

Abaikan foto ini
Apalagi yang ini
Benda paling menarik yang aku temuin di museum ini adalah mesin server tua yang kapan entah pernah dipake sama pemkot. Bentuknya biasa aja sih kayak server normal, tapi uniknya kapasitasnya cuma 8 Mb, alias berarti kan cuma 1 MB. (1 Byte = 8 bit). Dengan kapasitas segitu gak bisa bayangin sebeneranya server ini buat server apa. Dan kalau dibandingin dengan gadget sekarang wah, udah gak bisa dibandingin dah.
Server yang kapastasnya cuma 8 Mb
Setelah puas lihat-lihat isi museum dan ambil foto-foto tentunya, kami keluar dari museum. Di luar ternyata ada obyek lagi yang dari tadi gak sadar kalau ini juga benda museum. Sebuah mobil pemadam kebakaran yang terparkir tepat di depan gedung, maksudku. Mungkin mobil ini kalau bisa dimasukin ke dalam gedung bakalan lebih keren jadinya. Wkwkwk.

Mobil pemadam kebakarannya malah jadi background foto
Usaha pemkot untuk menghidupkan kembali Siola dengan menjadikannya sebagai Museum Surabaya ini tetap patut diapresiasi. Namun agak disayangkan juga museum ini fasilitasnya masih mini, seperti tempat parkir yang terkesan seadanya dan gedung yang masih belum dipugar. Walaupun begitu,  Semoga saja, kedepan museum ini bisa tambah besar, tambah banyak koleksinya, tambah keren dan suatu saat akhirnya bisa jadi icon baru Kota Surabaya.