Dari Ponorogo ke Ngawi via Gorang Gareng

Pulang kampung di awal Ramadhan ini ada kabar kurang mengenakkan. Pamanku yang tinggal di Ngawi opname berhari-hari di rumah sakit. Ibu ku yang belum sempat menjenguk pamanku tadi akhirnya ngajak aku untuk kesana.


Pergi ke rumah pamanku di Ngawi sebenarnya bukan hal pertama bagiku. Sebelumnya aku udah pernah kesana tapi waktu itu pas dari Surabaya langsung ke Ngawi dengan bus Sumber Kencono Selamat.

Awalnya kakakku menyarankan supaya aku sama ibuku disuruh naik bus saja kesana. Mungkin gara-gara khawatir nanti nyasar atau gak ati-ati di jalan. Tapi aku mentah-mentah menolaknya, dengan pertimbangan kalau naik bus pasti bakalan ribet. Pertama harus ke terminal Ponorogo dulu, terus naik bus Cendana ke Madiun yang geje tarifnya, lalu di Madiun harus ganti lagi bus ke arah Mira/Eka/SK yang ke arah Solo-Jogja. Itupun belum ditambah harus naik bentor(Becak Motor) dari perempatan terminal lama Ngawi ke rumah pamanku. Selain gak efisien waktunya, bakalan habis uang banyak juga buat PP Rumah - Ponorogo - Ngawi.

Akhirnya mending naik motor sendiri aja. Dari Ponorogo kalau mau ke Ngawi sebenarnya ada dua jalur terdekat yang bisa dilewati. Pertama lewat jalan utama yaitu rute Ponorogo-Dolopo-Madiun-Maospati-Ngawi atau lewat jalur alternatif yaitu Ponorogo-Lembeyan-Gorang Gareng-Maospati-Ngawi. Ibuku menyarankanku buat lewat jalur alternatif saja soalnya dulu pernah ke rumah pamanku lewat jalur itu. Aku pun setuju, karena pernah lewat jalur itu pula waktu ke Telaga Sarangan dulu. Terlebih jalur yang melewati Gorang Gareng tersebut lebih aman karena lebih sedikit melewati jalan Nasional Solo-Surabaya yang notabene jalur tengkorak karena banyaknya bus dan truk besar yang melintas.

Setelah sahur dan sholat Shubuh, sekitar jam setengah 5an aku dan ibuku berangkat. Kami pergi pagi-pagi supaya nanti sampai disana tidak terlalu siang dan bisa istirahat cukup supaya sorenya bisa langsung balik. Langit masih gelap, matahari belum menampakkan wajahnya. Jalan ke arah Ponorogo kota juga masih sangat sepi belum terlihat ada kesibukan, kecuali orang-orang yang emang berniat jalan-jalan menghirup udara pagi.

Sekitar setengah 30 menitan, kami sampai di Ponorogo kota. Langit sudah mulai terang waktu itu. Dari Ponorogo kota, kami langsung bertolak ke arah Magetan yang melewati kecamatan Babadan. Di seberang kanan jalan sebelum perbatasan Ponorogo-Magetan, terlihat gapura kokoh bertuliskan desa Kedung Banteng yang konon merupakan desa dimana ada terdapat tempat lokalisasi. Tapi kabarnya, lokalisasi tersebut bakalan ditutup sama Pemkab dan Kementerian Sosial.

Lupakan lokalisasi tadi, lanjut perjalanan. Memasuki kecamatan Lembeyan yang sudah masuk daerah kabupaten Magetan, kondisi jalan mulai naik turun. Pemandangan gunung Lawu terlihat jelas di depan. Di pertigaan Lembeyan kami belok kanan ke arah utara menuju Gorang Gareng. Dari titik ini jalan semakin berbukit dan berkelok-kelok. Untung kondisi jalannya mulus dan jarang yang berlubang. Hamparan sawah di kanan-kiri berbalut dengan udara sejuk pagi menemani perjalanan kami di jalur ini.

Sebelum sampai di Gorang-gareng, kami melewati Takeran yang merupakan kampung halaman mantan menteri BUMN pak Dahlan Iskan. Dikiri jalan terdapat pabrik Gula Gorang Gareng yang hingga sekarang masih beroperasi. Sampai perempatan yang apabila belok kiri menuju Magetan kota, aku tetap memacu motor lurus ke arah Maospati di utara. Jalur disini relatif datar namun lebih sempit daripada di Lembeyan tadi. Suasana jalan juga mulai ramai disini.

Dari Gorang Gareng ke Maospati kalau lewat sini mau tidak mau harus melewati komplek Lapangan Udara Iswahyudi milik TNI AU. Sepanjang jalan komplek, bangunan bercat biru khusus unutk para tamtama dan marsekal TNI AU berdiri berderet-deret. Kecepatan kendaraan di kompleks tersebut juga terbatas oleh banyaknya polisi tidur di jalan.

Selepas dari kompleks Lanud Iswahyudi, kami sampai di Maospati. Dari sini, jarak ke Kabupaten Ngawi masih sekitar 20 km-an lagi. Satu-satunya jalan yang ada dan yang kutahu ya cuma lewat jalan Nasional. Di jalanini aku harus ekstra hati-hati, karena banyak sekali bus dan truk besar yang ugal-ugalan. Bahkan ketika hampir sedikit lagi sampai di Ngawi terpaksa aku harus minggir keluar aspal, gara-gara di depan ada Bus Sumber Kencono Selamat yang nekat nyalip truk fuso dan bus Eka sekaligus.

Sekitar pukul 7 lebih akhirnya kami sampai juga di Ngawi. Sebelum sampai di rumah paman, aku dan ibuku berhenti dulu di Indomaret untuk membeli sesuatu sambil istirahat. Selanjutnya kami langsung ke rumah pamanku yang berada di daerah Simpang Lima Ngawi deket Pores arah ke Benteng Van Den Bosch. Kabar baiknya setelah sampai disana ternyata pamanku udah dibawa pulang dan kondisinya sudah jauh lebih baik. Alhamdulillah...

Rute Ponorogo -Ngawi via Gorang Gareng

Sore harinya, aku dan ibuku pamit pulang. Kami melewati jalur yang sama seperti ketika berangkat dan tiba di rumah dengan selamat sekitar sebelum Magrib.