Perpustakaan Daerah(Perpusda) Jatim di Surabaya

Sejak pertama kali ke Surabaya sebenarnya pengen banget pergi Perpustakaan Daerah (Perpusda) Jawa Timur yang ada di jalan Menur Prumpungan deket STESIA. Tapi karena gak ada kendaraan sendiri jadi males dan gak sempet kesana.


Beberapa hari lalu pas buka buka YouTube gak sengaja lihat talkshow Sarah Sechan yang waktu itu mbahas tentang perjalanan hidup Iwan Setyawan yang terangkum di Novel 9 Autumns 10 Summers. Nah, gara-gara talkshow tadi jadi penasaran dan ngidam pengen banget baca tuh Novel. Apalagi setelah browsing tahu kalau novel itu udah di film-in.

Awalnya gak tahu bakalan nyari dimana novelnya, sampai akhirnya temenku yang kebetulan book adict ngomong kalau novel 9 Auntum 10 Summer itu bejibun di Perpusda. Gak pake pikir panjang, langsung deh aku ajak temenku tadi kesana buat minjem. Masalahnya kata temenku tadi yang boleh minjem disana cuma anggota, dan aku yang bukan warga asli Surabaya harus bawa surat Surat Keterangan Mahasiswa kalau mau daftar.

Alhasil, aku urus dulu surat itu. Untungnya sistem cetak Surat Keterangan Mahasiswa di kampus tinggal klik-klik aja di mesin kayak ATM. Jatah ngeprint surat keterangan 1 lembar per semester juga masih ada. Gak sampai 5 menit langsung jadi deh tuh surat.

Besoknya pas jam kuliah kosong aku dan temanku akhirnya ke Perpusda. Dengan kondisi jalan Surabaya yang rada-rada macet ini, perjalanan dari kampus sekitar 15 menitan. Sampe di Perpusda, motor kami parkir di depan gedung. Beruntung gak ada petugas parkir yang malak retribusi disini.

Perpustakaan Daerah Jawa Timur
Pas masuk area Perpusda, kelihatan kalau gedung perpustakaan ini sebenarnya merupakan gedung Badan Perpustakaan dan Kearsipan(Bapersip) Jawa Timur dimana bagian depan gedung difungsikan sebagai Perpustakaan. Sedangkan bagian belakang difungsikan sebagai operasional dan kearsipan. Di lantai atas, terdapat Heerlijk Cafe yang waktu itu tutup karena sedang ada renovasi. Di halaman depan, terdapat beberapa mobil perpustakaan keliling yang entah operasional kelilingnya kemana.

Sebelum masuk ke gedung perpustakaan, petugas meminta setiap pengunjung yang datang untuk mengisi form buku tamu dulu di komputer. Bagian lobi Perpusda sendiri terdiri dari ruang lobi yang berisi banyak sofa, tempat pendaftaran, tempat absensi, ruang bermain anak, dan ruang penitipan barang. Di bagian tengah merupakan tempat administrasi dimana aktivitas pendaftaran, peminjaman dan pengembalian buku dilakukan. Bagian ini juga sebagai pembatas antara ruang lobi dan ruang baca.
Lobi Perpustakaan Daerah Jawa Timur
Selanjutnya temenku ngajari aku step by step gimana caranya daftar. Pertama aku harus ngisi dulu biodata di komputer khusus pendaftar. Kemudian setelah ngisi form, aku catat no registrasinya untuk diserahkan ke petugas pendaftaran. Aku juga menyerahkan surat yang kemarin aku urus ke petugas. Si petugas lalu meminta aku untuk duduk di depan kamera untuk difoto. Jepret!! Foto cukup sekali aja, kartu anggota ku langsung dicetak, jadi dan diserahkan kepada ku. Horray!!! Akhirnya resmi juga jadi anggota perpustakaan ini.

Wait, tujuan utama kesini belum selesai, buku 9 Auntums 10 Summers belum ditangan. Aku harus masuk ke bagian buku-buku untuk meminjamnya. Untuk masuk area baca buku tersebut, tas dan jaket tidak boleh dibawa. Barang-barang tersebut wajib diletakkan pada loker yang mana kuncinya dapat diperoleh di tempat penitipan dengan jaminan kartu identitas seperti KTP. Aku akhirnya masuk membawa HP dan Laptop saja.

Masuk ke ruang baca, terlihat rak-rak buku berjejer rapi. Walaupun gak terlalu besar, kategorinya cukup lengkap. Dari buku-buku materi kuliah baik sosial, pendidikan maupun teknik, buku-buku komputer sampai novel lokal dan terjemahan ada.

Koleksi Perpustakaan Daerah Jawa Timur
Sebagai perpustaakan utamanya Jawa Timur, pasti budget perpustakaan ini gede jadi koleksinya lumayan juga. Waktu itu, pengunjung ruang baca perpusda ini cukup ramai. Pengunjung didominasi mahasiswa dari sekitaran Perpusda seperti STESIA, UNTAG, UNITOMO dan Poltekkes, beberapa mungkin ada juga yang dari ITS Raya, UNAIR, UNESA dan UINSA.

Aku dan temanku langsung berburu tempat duduk yang kosong. Setelah dapat tempat duduk, aku langsung menuju komputer katalog. Aku ketikkan 9 auntums dan waah... ternyata buku tersebut masih ada di salah satu rak. Aku catat nomer rak yang berada di bagian Novel. Dan langsung deh aku cari bukunya. Gotcha!! Buku nya dapet!! Seneng banget rasanya.

Untuk pinjem buku tersebut, aku ke bagian peminjaman. Disitu aku nyerahin buku yang mau dipinjem dan kartu anggota. Peminjaman dibatasi maksimal 2 buku selama 2 minggu dan dapat diperpanjang. Setelah selesai tanda tangan, buku yang aku pinjem wajib hukumnya digesek ke entah alat apa itu namanya. Tujuannya supaya nanti pas keluar, sensor nya bunyi tit tit tit gitu lah katanya. Aku ikuti aja walaupun aku gak paham gimana itu kerjanya sistem.

Aku lalu balik ke meja. Temenku rupanya malah asyik wifi-an. Katanya sih mumpung ada Indosat SUPERWifi disitu. Jadi sekalian ngabisin kuota bonus. Ketika aku cek pake laptop, ternyata disitu ada WIFI ID  juga. Selain itu wifi gratis dari perpustakaannya pun juga tersedia. Untuk password bisa dicek di tulisan yang ada pada meja.

Ketika aku tanya temenku kenapa dia gak pinjem buku, dia ngomong kalau masih kena hukum gak boleh pinjam karena ngebalikinnya terlambat. Perpusda ini memang kalau telat dendanya bukan uang, tapi gak boleh pinjem sesuai jumlah hari telatnya. Jadi kalau telat 3 hari ya gak boleh pinjem 3 hari selanjutnya.
Setelah puas nyari-nyari buku lainnya dan juga wifian aku dan temenku akhirnya balik. Mungkin setelah ini akan sering kesini, apalagi Sabtu Minggu perpustakaan ini tetap buka walaupun cuma setengah hari saja.

Hmmm, overall Perpusda ini fasilitas publik yang lumayan kece juga. Udah nyaman gratis pula. Juga bantu sekali buat yang butuh banyak referensi buku. Sangat disarankan kalau jadi mahasiswa Surabaya sesekali main kesini. Sayang banget tapi, fasilitas perpustakaan yang seperti ini cuma ada di kota besar macam Surabaya. Sedangkan kalau di pelosok kabupaten-kabupaten sepertinya masih minim. Bagaimanapun keberadaan buku kan suatu hal yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.