Dari Dua Alun-alun hingga Bermalam di Stasiun - Ke Ngalam(Malang) bagian 3

Untunglah, sampai di pintu keluar SELECTA, petugas memberi tahu bahwa untuk angkot kembali ke arah kota bisa ditunggu di sana. Setelah menunggu agak lama, kurang lebih 20 menitan angkotnya pun datang. Awalnya aku kira kami langsung balik ke Malang, ternyata kami mampir dulu ke Alun-alun Batu karena salah satu temanku bakalan tinggal disana untuk ke rumah saudaranya. Dan untuk kereta, kami sebisa mungkin akan mengejar kereta api Penataran terakhir yang berangkat pukul 20.00 WIB.

Bagian Sebelumnya - Ke Ngalam(Malang) bagian 2

Alun-alun Kota Batu

Entah, aku sendiri gak terlalu bisa memetakan jalan-jalan kota Batu yang berputar-putar dan naik turun ini. Di Google Map pun jalan-jalannya juga agak sulit kupahami. Tiba-tiba udah sampai alun-alun Batu saja Pas banget adzan Ashar terdengar dari Masjid Besar Kota Batu yang letaknya seperti tipikal masjid besar di kota-kota Jawa yaitu depan atau dekat alun-alun. Kami pun lalu sholat dulu disana.

Setelah sholat, kami mencoba mengunjungi alun-alun Kota Batu tersebut. Tidak cukup luas sih sebenarnya, namun alun-alun ini cukup unik. Gak mau kalah dengan berbagai wahana wisata yang ada di kota tersebut, alun-alun Kota Batu ini dikonsep seperti area bermain pula. Di tengah-tengah alun-alun terdapat replika BUAH APEL BESAR yang tentu saja meneguhkan kota ini sebagai Kota Apel.

Alun-alun Kota Batu dengan Apel-apelnya
Yang paling menarik adalah adanya wahana kincir angin permanen disini, namun sepertinya wahana tersebut hanya beroperasi di sore atau malam hari saja. Hmm, mungkin mau mengambil konsep seperti London dengan London Eye-nya.

Wahana Kincir Angin di Alun-alun kota Batu, sayang fotonya backlight
Beberapa patung lucu juga turut menyemarakkan suasana alun-alun ini seperti patung kelinci, singa dan sapi. Di sekitar alun-alun pun banyak kursi taman warna-warni yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk duduk-duduk santai.

Nih patung sapi di alun-alun kota Batunya.

Kembali Ke Stasiun Malang

Setelah nyari minum dan makanan kecil di sekitar alun-alun, kami pun akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Malang dengan meninggalkan salah satu temanku yang mau ke rumah saudaranya. Gawatnya, lagi-lagi kami gak tahu harus nyari angkot dimana. Kami nyoba muter-muter saja di sekitar alun-alun dan pas jalan di tepi timur, eh ketemu deh angkotnya. Heran juga, disini kalau butuh dimana-mana bisa berhentiin angkot. Dan beruntunglah, angkot yang kami naiki ternyata langsung ke terminal Landungsari tidak perlu berhenti di Terminal Batu terlebih dahulu.

Sampai di Terminal Landungsari, kami ganti naik angkot ADL lagi yang mengarah ke stasiun. Angkot melaju melewati jalan-jalan Kota Malang yang pada sore hari mulai ramai. Di sekitaran kampus UB temannya temanku yang tinggal di Malang turun dan berpisah dengan kami.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 17.00 WIB ketika kami sampai di Stasiun Malang(Kota Baru). Pas kami masuk ke gedung stasiun untuk membeli tiket, kereta api Penataran yang jam 17.05 berangkat. Jadilah tetap sesuai rencana, kami beli tiket untuk kereta Penataran ke Surabaya terakhir yang berangkat jam 20.00 WIB. Untungnya tiket kereta tersebut pun masih tersedia.

Alun-alun Tugu Kota Malang

Kalau kereta berangkat sesuai jadwal, kami masih punya waktu 3 jam kedepan di Kota Malang ini. Kami memutuskan untuk sholat Maghrib dulu di sekitaran stasiun. Setelah sholat kami nyari makan. Satu-satunya tempat makan di sekitar tersebut ya hanya pusat kuliner di depan stasiun yang pada pagi hari tadi kami hindari karena takut mahal. Namun kali ini karena tidak ada pilihan lain kami terpaksa juga makan disitu.

Pusat kuliner tersebut sepertinya memang dibangun pemkot untuk melengkapi Taman Trunojoyo yang berada di depannya. Pengunjung makan secara lesehan diatas trotoar yang dialasi tikar oleh pemilik warung. Aku sendiri memesan nasi goreng sosis kepada salah satu warung(lupa namanya). Dan jujur, nasi goreng tersebut enak banget. Jadi pengen nambah, tapi malu sama temen-temen. (hehehe) Ketika mbayar, ternyata harga nasi goreng itu pun cukup murah cuma 8ribu saja. Perbandingan di Surabaya harga nasi goreng minimal 10 ribu sementara di Jakarta 15ribu. Pantes saja, pusat kuliner ini ramai banget. Jadi nyesel tadi pagi gak kesini.

Setelah makan, kami jalan-jalan ke Alun-alun Tugu Kota Malang yang terletak tidak jauh di depan Stasiun. Sayangnya pas kami kesana, alun-alun yang dikelilingi kolam teratai tersebut gelap-gulita sehingga tugu kota Malang agak susah terlihat. Hanya ornamen-ornamen lampu bunga matahari yang sedikit memberikan pencahayaan. Alun-alun ini persis lah bentuknya seperti logo Kota Malang dengan semboyan Malang Kucecwara-nya. Di sebelah selatan alun-alun ini berdiri Balai Kota dan DPRD Kota Malang yang juga dihiasi lampu warna-warni.

Balai Kota Malang di depan Alun-alun tugu Malang.

Menginap di Stasiun

Pukul tujuh malam lebih, kami kembali ke Stasiun Malang.

DANGER! BERITA BURUK! 

Terjadi kerusakan jalur rel di sekitaran Stasiun Blitar yang menyebabkan semua perjalanan kereta dari selatan ke utara terhambat. Announcer stasiun berkali-kali memberikan pemberitahuan tentang kerusakan / halang rintang tersebut. Sampai jadwal kereta Penataran kami yang seharusnya lewat, belum ada tanda-tanda jalur kereta bisa beroperasi kembali. Akhirnya sekitar pukul 21.00 penumpang kereta api ekskutif Malioboro Ekspress yang juga tertunda diberikan alternatif bus oleh pihak PT. KAI. Sedangkan untuk kami penumpang kereta ekonomi lokal, jika tidak mau menunggu ditawari refund tiket saja dan disuruh mencari moda alternatif lain.

Jika harus mencari alternatif moda lain, bus misalnya, kami gak tahu harus nunggu dimana. Lagian terminal Bus Arjosari pun cukup jauh dari sini. Udah malam lagi. Naik Pesawat? You Don't Say. Kami hanya bisa pasrah menunggu.

Beruntung aku bawa novel sehingga bisa nunggu sambil baca. Entah udah berapa bab aku baca. Suasana stasiun sudah sepi karena kebanyakan petugas sudah pulang dan tinggal yang piket malam saja. Di stasiun tersebut pun, cuma kami dan 4 orang lainnya yang bertahan menunggu. 2 temenku malah udah molor sejak tadi di kursi stasiun. Suara bel stasiun yang berkali-kali menyambut kereta barang yang beroperasi pada malam hari tak kuasa pula membangunkan mereka.

Semakin malam, sekitar pukul 11.00 aku diam-diam mengajak salah satu temanku untuk keluar nyari makan lagi. Nyari nasi goreng enak di pusat kuliner itu lagi. Dan ternyata disana semakin ramai saja. Tepat di jalan depan stasiun malah ada musik jalanan yang ramai dikerumuni anak-anak muda. Karena sudah gak ada yang njaga, kami bebas keluar masuk stasiun malam itu.

Entahlah kapan kereta datang. Kalau memang tidak bisa lewat, kami pasrah sampai pagi tidur disana. Udara dingin malam Kota Malang yang mulai menusuk menambah suasana sepi di stasiun.



Baru sekitar pukul 12.00 lebih, announcer stasiun mengumumkan bahwa kereta api Penataran akan segera tiba. Yeeey!! Aku langsung antusias dan teman-temanku yang tertidur terbangun dengan tidak percaya. Pahlawan kami telah datang. Alhamdulillah.

Pas masuk kereta, gerbong sangat sepi sekali. Mungkin karena banyak penumpang yang menyerah dan refund tiket. Gerbong kereta ekonomi ini seakan milik pribadi saja sehingga kami duduk satu petak satu anak mencari posisi terbaik untuk tidur. Kereta melaju perlahan dan sesekali menaikkan beberapa penumpang yang senasib dengan kami. Sampai di Gubeng sekitar pukul 3 pagi dan sampai di kost, sayup-sayup suara sholawat menjelang adzan Shubuh sudah mulai terdengar. Kali ini acara jalan-jalan ini benar-benar melelahkan namun tentu saja penuh dengan cerita.

NB : Mungkin pas di Malang, enaknya rental montor saja. Selain lebih cepat dan lebih leluasa kalau kemana-mana kan gak perlu gonta-ganti angkot kayak diatas. Tapi kalau suka nyoba urban transport gak papa seh. hahaha