Dari Museum Brawijaya ke Taman SELECTA - Ke Ngalam(Malang) bagian 2

Karena belum jelas rutenya mau kemana, kami duduk-duduk saja di halte depan stasiun yang merupakan daerah pangkalan lyn/angkot. Setelah melalui debat kusir yang gak selesai-selesai, akhirnya perut yang belum terisi memberikan petunjuk kami harus kemana. Agenda pertama yang paling urgent, CARI SARAPAN!

Masalahnya, waktu itu di sekitar kami gak ada satupun orang jualan makanan. Sebenarnya di belakang pas ada sih, bahkan itu pusat kuliner, tapi gara2 takut harganya mahal jadi ragu mau sarapan disitu. Oke deh, kami nyoba ke tengah kota dulu sekalian nyari makanan.

Bagian Sebelumnya - Ke Ngalam(Malang) bagian 1

Temenku yang udah beberapa kali ke Malang kemudian nyetop salah satu angkot ADL yang sejak tadi banyak berseliweran. Dan kami ber-6 langsung masuk ke lyn tersebut. Pas berdesakan bersama dengan penumpang lain di angkot, si sopir bilang kalau hari ini ada pawai madrasah, jadi rute angkot ini berubah. Pertama, angkot melaju ke arah selatan buat nyari jalan alternatif, eh ternyata pawainya mengarah ke selatan yang notabene ngeblok jalan ke arah kota. Pak sopir tadi akhirnya balik arah dan dengan nada agak tinggi bilang gak bisa lewat sini dan harus memutar lewat utara.

Konsekuensinya, semua penumpang harus bayar lebih tinggi daripada biasanya yang cuma 3500 rupiah menjadi 5000 rupiah. Mendengar perkataan sopir angkot yang menaikkan harga, semua penumpang tampak pasrah dan sepertinya memaklumi hal tersebut. Angkot akhirnya melaju ke arah selatan hingga Pasar Besar kemudian belok kanan ke arah kota melalui jalan-jalan sempit Kota Malang. Untunglah, angkot di Malang ini lebih cepat jalannya daripada yang ada di Surabaya.

Sampai di ujung jalan Semeru, temanku memberikan isyarat untuk turun. Aku belum pernah ke daerah ini sebelumnya. Jalannya lumayan lebar sih dan teduh karena sepanjang jalan ditumbuhi pohon-pohon tinggi nan rimbun. Di depan kami, berdiri perpustakaan Kota Malang. Tapi kami tentu saja gak akan kesitu, pandangan kami tertuju kepada penjual soto dan pecel yang ada di pinggir jalan. Kami pun akhirnya sarapan disitu.

Museum Brawijaya


Setelah kenyang sarapan, temenku ngajak berjalan ke arah barat. Tepat di tengah-tengah pertigaan, berdiri sebuah tugu dengan tulisan IDJEN BOULEVARD di depannya.

Pertigaan IDJEN Boulevard
Di seberang tugu tadi ternyata terdapat Museum Brawijaya, museum miliknya TNI. Jalan masuk museum diapit kolam besar berisi ikan-ikan nila. Pelataran museum saat itu penuh sekali dengan rombongan studi tour sebuah SD, yang setelah aku kepo tuh anak-anak SD ternyata jauh-jauh berasal dari ibu kota. Hmmm, mungkin sekalian wisata ke Jatim Park 1,2 dst mereka.

Setiap pengunjung di museum tersebut dikenai biaya masuk cukup 3 ribu saja perorang. Pertama, kami masuk ke ruang museum sebelah utara/kanan. Di ruang tersebut, tersimpan berbagai macam alat-alat perang militer seperti senjata api yang pernah digunakan dulu.

Senjata Api, bukan Buat Mainan
Di dinding museum terdapat beberapa potret perjuangan dulu kala seperti pertempuran 10 November Surabaya.
Ngomong-ngomong ini dimana ya?
Tebakanku sih di viaduk baratnya tugu pahlawan sekarang.
Ada juga peta rute gerilya lengkap pangeran Jenderal Sudirman.

Rute Gerilya Panglima Jenderal Soedirman lewat Sambit
Dan WOW, di peta tersebut ada nama kecamatan rumahku. Jauh-jauh kesini jadinya malah baper kangen rumah. :)

Sisi selatan museum isinya hampir sama, namun benda musium disini ditata lebih rapi di etalase-etalase menyerupai rak perpustakaan. Puas melihat-lihat isi benda museum, kami masuk ke area tengah gedung yang berupa taman. Satu-satunya hal menarik di tempat tersebut adalah sebuah gerbong kereta yang konon merupakan gerbong kereta pembantaian dimana penumpangnya yang merupakan para pejuang Indonesia dibakar hidup-hidup. Ngeri banget.

Gerbong Maut?

Ke Kota Apel


Tujuan selanjutnya sudah kami putuskan. Yup, kami sepakat untuk pergi ke Kota Batu. Dengan pertimbangan danatentunya di sana kami gak bakal ke Jatim Park 1, Jatim Park 2 atau musium angkut yang tiketnya selangit. Kami cukup memilih ke SELECTA saja karena tiketnya lebih terjangkau sekitar 25-35ribuan.

Keluar dari Museum kami mencoba mencari angkot kembali yang memiliki rute L dibelakangnya a.k.a arah terminal (L)andungsari. Tak perlu menunggu lama angkot yang kami tunggupun lewat. Taraaa, waktu kami masuk angkot tersebut ternyata sopirnya bapak yang sama dengan sopir angkot yang tadi. Mendengar obrolan kami mau kemana, bapak ini menawarkan untuk mengantarkan langsung kami dengan biaya 100.000 ribu sampai Batu. Namun setelah kami hitung-hitung harga segitu kemahalan dan kamipun menolaknya. Semakin ke arah barat, angkot melaju melewati beberapa perguruan tinggi di Kota Malang seperti Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Brawijaya (UB), UIN Malik Ibrahim dan perguruan tinggi swasta lain. Tak heran kalau memang Malang ini punya julukan kota pelajar dengan banyaknya perguruan tinggi yang ada.

Salah satu temenku berhenti di depan UB, dia ingin menjemput teman sekolahnya untuk gabung, sementara aku dan 4 temanku yang lain tetap naik angkot tersebut ke terminal Landungsari. Sekitar pukul 10.30an akhirnya kami sampai di terminal tersebut. Terminal Landungsari sebenarnya bukan terminal yang besar sih, namun karena letaknya yang ada di ujung barat Malang yang di dekat perbatasan Malang-Batu, terminal ini juga melayani bus antarkota. Salah satu yang cukup terkenal sih rute Malang - Batu - Jombang yang dilayani armada Puspa Indah. Ah, aku baru inget, kalau salah satu temenku sekolah dulu ada yang kuliah dan kost deket sini. Sayang, pas aku kontak gak ada balasan.

Di terminal landungsari, kami menunggu salah atu temenku yang turun di UB tadi. Cukup lama kami menunggu hingga akhirnya setelah temanku yang membawa temannya tadi datang. Kami kemudian melanjutkan ke Batu dengan naik angkot lagi. Entah angkot apa yang kami naiki, yang pasti jurusan terminal Batu. Perjalanan Terminal Landungsari ke Terminal Batu ini cukup panjang, memakan waktu sekitar 20menitan. Karena jaraknya yang memang jauh, angkot ke batu ini tarifnya 7ribu sendiri. Di Terminal Batu, kami transit, eh oper lagi naik angkot yang ke arah SELECTA.

Setelah penumpang cukup, angkot pun melaju menyusuri jalan-jalan Kota Batu yang berbukit naik turun. Hawa kota Batu yang mendung ditambah waktu itu mendung sangat kontras dengan hawa Surabaya yang panas.  Sepanjang perjalanan toko buah, sayur dan bunga berjejeran. Tidak jarang di beberapa titik kami menemukan pohon apel dan jeruk yang mulai berbuah. Sekitar pukul 12an akhirnya kami sampai di SELECTA.

Taman Wisata SELECTA


Jujur, aku gak tahu sebenarnya ini tempat apa karena di agenda main-main ini aku cuma ikut-ikutan saja. Temenku sih bilang disitu isinya taman bunga dan beberapa arena bermain. Setelah membayar tiket sebesar 25 ribu. Kami pun masuk area taman SELECTA tersebut. Berdasarkan pengamatanku, SELECTA ini terletak di lereng bukit yang kemudian dipermak sedmikian rupa sehingga menjadi taman wisata. Kondisi di taman ini terbilang cukup ramai, di halaman depan / parkiran banyak berjejer bus-bus pariwisata. Sebelum masuk lebih jauh kami sholat Dhuhur dulu. Pas ambil wudhu, kerasa air disini benar-benar dingin.

Oke setelah sholat, kami mulai masuk ke area taman. Spot yang pertama kami kunjungi adalah spot ikan koi jumbo. Sesuai dengan namanya di spot tersebut banyak ikan koi berukuran jumbo. Entah dibolehkan atau gak, akupun iseng memberikan makan mereka remahan roti yang sebelumnya aku beli di Indomaret stasiun.

Kalau ini sih dimakan sendiri, rotinya, hehehe
Menanjak keatas, banyak patung-patung hewan seperti harimau, gajah, jerapah, badak dan BRONTOSAURUS.

Patung Brontosaurus, sayang posisi cahayanya gak pas.
Di lembah bawah, hamparan bunga warni-warni terbentang, sangat menggoda untuk dijadikan spot foto.

Taman Bunga Selecta. Di atasnya ada jalur sepeda layang.
Abaikan perut orang yang dibagian ijo.
Dari sebelah puncak atas, kita bisa melihat hamparan sawah dan pemukiman warga yang terletak di sebelah area taman wisata ini. Dari puncak tadi, ada terowongan taman yang cukup panjang di sisi timur mengarah ke arah bawah.
Di bagian tengah taman terdapat kolam renang yang bebas digunakan. Kolam renang ini waktu itu cukup ramai. Karena gak bawa baju ganti jadi ya gak ikutan nyemplung kesitu. Lagian pasti dingin banget. Area menarik lainnya adalah perahu angsa, sepeda layang, flying fox, dan naik kuda keliling taman. Sayangnya fasilitas tersebut harus bayar lagi.

 Puas berkeliling, kami kemudian makan di salah satu warung bakso disana. Harganya ternyata gak mahal-mahal amat sih. Standar lah 7-10 ribuan per porsi.

Kolam Renang dan Taman Bermain SELECTA
Waktu terasa cepat sekali dan tiba-tiba jarum pendek udah bablas dari arah angka 2. Kamipun bergegas segera balik. Telat balik konsekuensinya telat ke stasiun dan gak kebagian tiket. Waduh! pulang naik apa terusan. Oh iya, ada yang kelupaan! Kami belum memperhitungkan dari SELECTA yang lokasinya cukup terpencil ini untuk kembali ke pusat kota Batu bakalan naik apa. Kalau Kami mulai panik, apalagi rintik hujan tampaknya mulai jatuh dari langit.

Bagian Selanjutnya - Ke Ngalam(Malang) bagian 3