Gowes ke Kaki Jembatan Suramadu

Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia memiliki banyak icon unik yang tersebar di seluruh penjuru kota. Salah satu icon yang populer dan cukup mainstream adalah Jembatan Suramadu. Yup, jembatan yang dibangun di era Megawati dan jadi 6 tahun kemudian di era SBY ini memang cukup fenomenal karena secara fisik dan psikologis menjadikan Pulau Madura tidak terpisahkan lagi dengan Pulau Jawa.

Pertama kali aku lewat jembatan ini pada tahun 2012. Waktu itu pas ada lomba di Surabaya dan kebetulan karena ada waktu luang, salah satu guru yang juga pemimpin rombongan ngajak nyeberang sekalian jalan-jalan ke Bangkalan buat ngunjungin saudaranya.

Setelah menetap di Surabaya, sebenarnya pengen banget ke Jembatan Suramadu ini. Pernah dulu waktu masih rutin gowes sama temen-temen aku ngajak ke jembatan tersebut. Cuma salah satu temenku gak mau gara-gara rumah pamannya deket sama Suramadu dan dia bilang gak ada hal menarik yang bisa ditemuin disono. Oke fine. Karena gak ada yang mau diajak gowes kesana, aku gowes sendiri aja. Lagian udah lama juga gak gowes semenjak terakhir pas lihat matahari terbit di deket Pantai Kenjeran.

Minggu pagi setelah sholat Shubuh langsung tancap sepeda ke arah Suramadu. Dari kost, aku lewat MERR (Middle East Ring Road a.k.a Jalan Ir. H. Soekarno sekarang) ke arah utara. Langit masih gelap, jalanan MERR pun masih sepi. Saking sepinya, sempat khawatir ketemu begal disini. Alhamdulilah sampai pertigaan MERR - Jalan Raya Kenjeran gak ada apa-apa yang terjadi.

Dari pertigaan tadi aku belok kanan. Kondisi Jalan Raya Kenjeran lebih ramai daripada MERR. Truk-truk pickup dan motor yang mengangkut barang-barang pasar banyak berseliweran. Di jalan ini juga lumayan banyak penduduk yang keluar rumah sekedar jalan-jalan menghirup udara pagi yang belum banyak terkontaminasi polusi.

Gak sampai 15 menit, aku udah tiba di perempatan ... (entah apa namanya) yang apabila belok kanan pokoknya menuju Jembatan Suramadu. Jalan Akses menuju Suramadu ini terdiri sangat lebar, terdiri dari 4 jalur cepat dan 2 jalur lambat di bagian pinggir yang dibatasi dengan separator sebagai akses warga. Di tengah jalur akses terdapat sungai yang tentunya bakal bermuara di Selat Madura. Celakanya tanpa sadar aku malah masuk jalur cepat, di jalur cepat ini kendaraan mobil dan motor banyak yang memacu kecepatannya seakan-akan di jalan tol apalagi kondisi masih subuh, gak bisa bayangin kan gimana bahayanya masuk jalur ini. Langsung deh aku menepi, dan menunggu kesempatan buat nyeberang ke jalur lambat.

Di jalur lambat yang bersentuhan dengan pemukiman tersebut banyak masyarakat setempat yang melawan arus kendaraan yang sebenarnya searah. Mungkin kejauhan juga kalau harus nyeberang jalur lambat di seberang. Lucunya juga, justru di jalur lambat ini oleh beberapa geng motor digunain buat trek-trekan balapan gak jelas. Aku agak canggung lewat gerombolan geng motor ini, takut disorakin atau digodain. wkwkwkw

Setelah mengayuh sepeda beberapa kilometer, akhirnya tampak juga pintu gerbang Tol Suramadu. Tentu saja aku gak bakalan masuk kesana. Aku ngikuti jalur lambat yang mengarah ke kaki jembatan. Gak ngira ternyata disini rame banget. Banyak orang yang main kesini padahal matahari aja belum nongol sempurna. Di pinggir kaki Suramadu ini dibangun beberapa taman yang sayangnya oleh beberapa orang malah disalahgunakan sebagai warung lesehan. Di balik taman itu, ada tanah kosong yang di spanduknya sepertinya bakalan dibangun buat CBD (Central Bussiness District). Di seberang jalan terdapat terminal Kedung Cowek yang terlihat modern.

Aku berpindah ke seberang kaki jembatan melewati terowongan dan memarkir sepeda di deket rumah warga yang berada tepat di pinggir laut. Selanjutnya, aku turun ke bawah buat lihat-lihat. Pesisir disini didominasi oleh bebatuan. Untuk air lautnya aku gak bisa menerka bening atau gak karena masih gelap.
Bebatuan di kaki jembatan Suramadu
Di depanku beberapa perahu nelayan bersandar bersiap untuk melaut. Dibaliknya, berdiri kokoh jembatan seharga triliunan rupiah yang dari tadi aku tuju. Bentang tengah yang ditopang dua menaranya memang kece. Lampu bewarna kuning yang berkerlip-kerlip menambah kerennya jembatan tersebut. Di seberang jembatan, Pulau Madura yang daratannya sebagian besar rata terlihat samar-samar.
Jembatan Suramadu di Pagi Hari
Sambil menunggu matahari terbit, aku nyoba foto-foto. Walaupun hasilnya geje sih, maklum sejak dulu emang gak bakat ngefoto. Di belakangku ternyata ada juga bapak-bapak yang gowes kesini. Bedanya denganku, sepeda dan peralatannya lengkap. Belum lagi ditambah senjata kamera DSLR di genggamannya. Oke deh mending aku balik aja.

Overall, kaki Jembatan Suramadu ini cukup keren di pagi hari, sayangnya kurang dikelola dengan baik sehingga banyak bangunan dan warung ilegal yang gak jelas. Peran lembaga negara BPWS (Badan Pengembangan Wilayah Suramadu) yang berdiri sejak tahun 2008 dan memiliki gedung megah di sekitar sini seakan gak terasa.

Awalnya aku ingin balik dengan menyisir jalan pantai ke timur. Tapi sayangnya jalur tesebut diblokade. Akhirnya aku balik lewat jalur semula. Baru setelah SMAN 19 Surabaya aku belok kiri lewat Jalan Nambangan. Aku lihat di Google Map, jalan ini tembus dengan jalur pantai Kenjeran tempat aku lihat matahari terbit dulu.

Rute Gowes ke Suramadu (21.9 km)

Tambahan :
Pas aku lewat jalan kenjeran, progress pembangunan jembatan Kenjeran sepertinya udah hampir selesai. Udah kelihatan bentuk jembatannya. Gak sabar buat gowes lewat jembatan tepi laut yang katanya ditengah-tengahnya bakalan ada air mancurnya itu.

Pembangunan Jembatan Kenjeran yang hampir selesai