Berburu Tiket Kereta Api Penataran - Ke Ngalam(Malang) bagian 1

Jam setengah 3 pagi, temenku mbangunin aku. Hmmm, baru sekejap rasanya aku tidur gara-gara malam sebelumnya sampai tengah malam ikut acara UKM di Digital Loop Station(DiLo) Telkomsel depan Taman Bungkul. Dengan malas-malasan, aku  paksakan buka mata dan melangkah dari tempat tidur. Sejenak kemudian aku baru inget kalau hari ini temen-temenku udah ngajakin aku main ke Malang.

Sesuai rencana yang dibuat secara mendadak satu hari sebelumnya, aku dan temenku yang mbangunin aku tadi kebagian tugas buat ngantri tiket di stasiun. Tahu sendiri kan, sekarang tiket kereta api lokal gak bisa dipesen jauh-jauh hari dan cuma bisa dipesen minimal 3 jam sebelum keberangkatan. Pesennya pun harus di stasiun gak bisa online. Alhasil demi mendapatkan tiket Kereta Api Penataran jurusan Surabaya-Blitar yang berangkat paling pagi(jam 5an), salah satu/dua dari kami harus berkorban berangkat ke stasiun duluan.

Aku dan temenku tadi langsung tancap gas ke Stasiun Gubeng Lama. Dengan kondisi jalan protokol Surabaya yang benar-benar masih sepi di jam sepagi ini, gak butuh waktu lama buat sampek ke stasiun. Mungkin gak sampai 10 menit kami udah sampai di stasiun tersebut. Sayangnya pas nyampek disana, stasiun malah belum buka. Dan gawatnya walaupun belum buka udah banyak banget orang yang stand by di depan stasiun tersebut. Akupun mulai was-was gimana nanti kalau kami gak dapet tiket, tinggal wacana deh rencana main-main ke Malang ini.

Sambil menunggu temenku yang memnitipkan sepeda motornya di parkiran, aku nyari posisi stand by terbaik di depan pintu stasiun supaya nanti pas dibuka bisa lari cepat ke dalam.
10 menit,
20 menit,
belum ada tanda-tanda nih stasiun bakal buka. Yang ada malah aku ketemuan sama beberapa temen kampus yang waktu itu akan pulkam naik kereta. Baru sekitar pukul 03.30 lampu stasiun dinyalakan dan pintu perlahan dibuka, semua mata di depan stasiun langsung tertuju pada pintu tersebut dan secara spontan langsung berlari menuju ke dalam stasiun yang telah dibuka.

Aku pun akhirnya juga ikut berlari, terhanyut dalam histeria perburuan tiket ini. Setelah di dalam stasiun aku langsung cari loket tiket untuk kereta api Penataran dan segera bergegas menuju loket tersebut. Alhamdulillah waktu itu dapat antrean yang cukup di depan. Temanku yang entah dari tadi parkir motor gak balik-balik ngeliat aku dapat antrean di depan dan nyerahin uang beserta 6 ktp temen-temen yang bakalan ikutan ke Malang. Dia pun ikut ngantri di belakang buat jaga-jaga kalau nanti aku gak boleh pesen 6 tiket sekaligus.

Setelah 2 orang di di depanku selesai urusan beli tiketnya, sekarang giliran aku yang berhadapan dengan petugas loket. Si petugas nanya turun dimana dan berapa orang, aku bilang Malang Kota 6 orang, tumpukan KTP temen-temenku yang ditangan aku serahkan ke dia namun petugas loket tersebut ngomong gak perlu. Oh, berarti sekarang kereta lokal gak perlu KTP ya, kalau gitu bakalan balik ke zaman jahiliyah perkeretaapian dimana bakalan rawan banyak calo pikirku.

Gak pake lama si petugas loket kemudian minta uang 72 ribu ke aku buat 6 lembar tiket tersebut. Aku serahkan uang yang diminta, kebetulan waktu itu ada uang pas. Yeee, finally 6 tiket Kereta Api Penataran jurusan Surabaya Gubeng - Malang Kota yang berangkat paling pagi sudah berhasil diamankan. BTW, tapi kok 72 ribu ya harganya tadi, berarti tiap tiket harganya cuma 12 ribu, padahal kemarin lihat di salah satu web, tiket kereta api Penataran ini semenjak subsidinya dikurangin di era Pak Jokowi tarifnya naik jadi 15 ribu dari sebelumnya yang cuma 5 ribu doang. Oh mungkin tarifnya sekarang udah berdasarkan jarak dimana kalau aku pesen sampai Blitar baru harganya 15 ribu. Bentuk tiketnya pun sekarang lebih kecil menyerupai struk indomaret, mungkin lantaran buat menghemat kertas sama ngeprintnya lebih cepet.

Oke, setelah perburuan kereta api selesai aku dan temenku sholat Shubuh di mushola sebelah selatan stasiun. 4 temenku yang lainpun mulai berdatangan setelahnya. Daripada nunggu gak jelas di luar berteman nyamuk-nyamuk kelaparan Pukul 04.15an kami berenam masuk ke ruang tunggu. Sekitar hampir jam 5 kereta announcer stasiun mengumummkan bahwa kereta api Penataran sebentar lagi datang. Kami bergegas menuju peron dan beberapa saat kemudian kereta api yang dinanti pun tiba.

Kami masuk ke gerbong sesuai tiket. Imbas dari sistem baru pembelian tiket kereta lokal ini juga, kursi yang kami peroleh acak oleh sistem, pembeli gak bisa milih tempat duduknya sendiri. Gak mau tahu aku milih tempat yang pojok supaya dapat lihat jendela luar sekaligus deket colokan. Kereta yang kami tumpangi lalu melaju pelan dan berhenti di tiap stasiun kecil untuk menaikkan  penumpang. Walaupun kelas ekonomi tapi sudah dilengkapi AC sehingga suhu cukup dingin. Sebenarnya kondisi suhu ini cocok sekali buat tidur. Tapi, entah kenapa aku gak merasa ngantuk sekali naik kereta api ini. Padahal kan tadi cuma tidur beberapa jam saja. Waktu perjalanan lebih banyak aku habiskan buat ngebut baca novel sambil lihat-lihat pemandangan di luar jendela dimana langit sudah mulai menguning menampakkan sinar matahari pagi.

RUTE SGU-MLG 
Sampai di sekitar stasiun Bangil konsentrasiku membaca buku terpecah mendengar seorang bapak-bapak necis di kursi sebelah yang bercakap-cakap dengan seorang suami-istri paruh baya. Dari omongannya orang ini sepertinya tahu apapun segala macam bentuk instansi pemerintahan mulai dari perkeretaapian, perbankan, sampai isu-isu terkini. Aku pun tertarik nguping pembicaraannya dan lambat laun si bapak bercerita kalau dia sebenarnya adalah Auditor Kementerian BUMN yang kebetulan dapat tugas audit di Blitar. Karena dia rumahnya Mojokerto maka untuk beberapa hari ini dia lebih milih PP Surabaya - Blitar.

Dia pun juga menyempatkan berbasa-basi dengan salah satu temenku. Nanya mau kemana dan mau ngapain. Tahu kami mau main-main ke Malang-Batu orangnya pun cerita dulu waktu muda pas kuliah di UNAIR juga sering main ke Malang-Batu seperti kami, dan dia lagi-lagi dengan antusias nunjukin rute angkutan yang bisa dinaiki. Si bapaknya bahkan menawari bantuan ke kami bilamana nanti pas mau balik ke Surabaya,  kerabatnya yang jadi polisi khusus kereta api(Polsuska) di stasiun Malang bisa mesenin tiket duluan jadi kami gak perlu takut kehabisan tiket. Bahkan saking niatnya ngebantu, dia nelpon kerabatnya tadi dan ngakuin kalau kami adiknya.

Di luar agenda main-main kami, orang tadi juga nanya macem-macem tentang kuliah, jurusan, kampus, beasiswa dsb. Dia bilang kalau adiknya ternyata ada yang sekampus dan sejurusan dengan kami. Tapi pas disebut namanya tidak satupun dari aku maupun temen-temenku yang kenal. Mungkin bapaknya salah ngira kampus kami kampus sebelah. Dia juga nanya ada yang dapat beasiswa gak dari kami? kami jawab ada, salah satunya bidikmisi. Dan pengetahuan bapak ini lagi-lagi keluar, dia benar-benar tahu tentang beasiswa tadi mulai dari bank penyalurannya sampai nominal uang beasiswanya.

Oke, tak terasa sekitar pukul 8an kami tiba di Stasiun Malang. Kami berpisah dengan orang tadi. Kereta yang berhenti di peron tengah membuat kami pergi harus menyebrang ke stasiun melewati underpass.
Stasiun Malang
Wahh, akhirnya sampai juga di Malang. Walaupun ini bukan kali pertama ke Malang, kota ini memang selalu menarik buat dikunjungi. Keluar dari stasiun udara sejuk Kota Malang terasa. Walaupun gak sejuk-sejuk amat sih, tapi dibandingkan Kota Surabaya yang tahu sendiri gimana panasnya, suhu di Malang ini cukup berbeda drastis.

Ok wait,,,
Sejenak kemudian kami baru sadar sebenarnya di Malang kami mau kemana. Inilah yang belum jelas dan fixed dari rencana kami kemarin. Temen-temenku akhirnya berdebat kemana dan naik apa. Aku pun yang cuma ngikut pasrah mau dibawa kemana. Dengan gak bertujuan kayak gini, resmi pagi itu kami berenam bakalan menjadi gembel yang gak jelas di Kota Malang.

Bagian Selanjutnya - Ke Ngalam(Malang) bagian 2