Istimewanya Keraton Jogja

JOGJA ISTIMEWA! Menggantikan branding sebelumnya yaitu "Jogja Never Ending Asia", branding jargon ini sangat sering kita jumpai di tiap sudut-sudut kota Jogja. Saking seringnya, dua kata tersebut mungkin sudah sangat melekat di pikiran kita sehingga tidak ada kata lain yang patut disandingkan dengan Istimewa selain kata Jogja. Tak dapat dipungkiri, Jogja memang istimewa di berbagai hal, mulai dari suasana, budaya, hingga sejarahnya.

Branding Jogja Istimewa.
(Credit Gambar : Cahyayoga-logobarujogja)
Berbicara tentang sejarah, sepertinya memang hal ini yang menjadikan Jogja begitu istimewa. Pengakuan Sultan HB ke-IX terhadap kedaulatan NKRI pada saat awal-awal kemerdekaan secara de jure membuat pemerintahan RI memberikan status istimewa kepada Jogja. Salah satu dari keistimewaan tersebut yaitu daerah Jogja (Provinsi DIY) tetap dipimpin oleh Sultan yang bertindak sebagai Gubernur. Secara tidak langsung, dengan adanya keistimewaan tersebut membuat keraton Jogja tetap eksis dan menjadi keraton yang paling terkenal di Indonesia hingga saat ini. Keraton Jogja memang tidak se-eksklusif dulu lagi yang hanya menjadi rumah bagi Sultan beserta keluarganya saja. Pada bagian tertentu telah dibuka untuk umum sebagai tempat wisata dan juga media belajar budaya Jawa.

Mengunjungi keraton tentu saja tidak hanya pantas dilakukan siswa SD sewaktu studi tour saja. Siapapun yang ke Jogja rasanya wajib deh sesekali mengunjungi keraton karena disinilah awal mula istimewanya Jogja itu. Karena itu kunjungan ke keraton Jogja menjadi agenda pertama yang wajib di Jogja ini.

Setelah sebelumnya muter-muter gak jelas dengan TransJogja, kami turun di Halte Malioboro 3. Halte ini letaknya persis di depan benteng Vredeburg yang berada di ujung selatan Jalan Malioboro. Berjalan ke selatan sedikit, Titik nol Kilometer Jogja dengan gedung bank BNI 46-nya yang ikonik menyambut kami. Untuk menuju ke keraton, kami berjalan lagi lebih ke selatan, kira-kira 300-600 meter.

Setelah melewati gapura, tampak hamparan alun-alun utara yang luas dengan 2 pohon beringin di tengahnya. Karena hari sudah siang dan tadi pagi cuma makan seadanya, kami memutuskan untuk mencari makan terlebih dahulu. Kami makan di salah satu warung di depan Masjid Kauman Keraton yang berada di sebelah barat alun-alun. Nasi Rames + Telur Asin ditambah dengan Es Teh Manis cukup ditebus dengan uang Rp. 12.000 saja. Harga yang lumayan murah untuk lokasi dekat tempat wisata. Setelah makan, pas sekali terdengar adzan dari Masjid Keraton, alhasil kami sholat Dhuhur saja disana.
Masjid Kauman Keraton Jogja.
Credit gambar : wahyunovian.wordpress.com
Masjid Keraton ini memiliki usur Jawa yang sangat kental. Tiang dan dinding bangunan masih didominasi oleh kayu dengan ukiran-ukiran Jawa. Bangunan utama masjid memiliki atap yang agak rendah, namun untungnya tidak pengap seperti yang aku bayangkan karena ada air conditioner yang terpasang di pinggir masjid. Di bagian depan, terdapat emperan masjid terbuka yang luas dengan atap Joglo.

Selesai sholat Dhuhur, kami lanjut ke Keraton. Pintu masuk wisatawan yang akan ke keraton berada di sebelah barat. Sebelum pintu masuk terdapat museum Kereta yang berisikan kereta-kereta kuda milik keraton. Kami hanya lewat saja, tidak ada masuk ke museum tersebut.

Ternyata tiket masuk dibedakan antara wisnus/lokal dan wisman/asing, dan tentu saja untuk wisatawan mancanegara lebih mahal. Tapi gak mahal-mahal amat kok sekitar puluhan ribu saja. Itu pun mereka dapat fasilitas tour guide. Untuk wisatawan lokal macam kami, cukup bayar Rp. 3000an saja. Nah kalau ingin foto-foto, tinggal nambah Rp. 1000 rupiah.

Masuk ke keraton disambut gapura dengan aksara Jawa. Sayang banget ilmu aksara jawa ku udah pudar gara2 udah lama gak belajar lagi. Terakhir belajar aksara jawa sih SMP. Padahal dulu hafal banget aksara-aksara macam gini.


Tempat pertama yang akan kami jumpai adalah halaman luas yang didominasi tanah berpasir dengan pelataran joglo di tengahnya.  Kami kemudian masuk ke bagian yang mungkin bisa disebut pernah menjadi dapur. Karena isinya semacam museum berisi alat-alat masak.


Suasana dalam keraton asri sekali. Aroma budaya jawa sangat kental. Sesekali kami bertemu dengan abdi dalem keraton dengan pakaian adat jawa dan blangkonnya yang khas berseliweran. Mereka sesekali juga tak segan-segan tersenyum serta menyapa kami.



Masuk ke bagian tengah terdapat semacam taman dengan beberapa tempat duduk. Beberapa pohon besar nan rindang membuat suasana di taman tersebut sangat nyaman. Kami pun beberapa saat menyempatkan diri duduk-duduk disana. Area selanjutnya yang kami kunjungi adalah bagian prajurit keraton. Disini kami menemui beberapa turis Jepang dan Thailand yang sepertinya sangat tertarik dengan Keraton Sultan ini.



Area terakhir yang kami kunjungi adalah Museum Batik. Di Museum ini Pengunjung dilarang mengambil gambar/foto walaupun udah punya freepas untuk ambil gambar. Tentu saja sesuai namanya, museum ini berisi batik-batik dan juga alat pembuatannya. Hal yg cukup unik disini adalah adanya sebuah sumur yang tulisannya dilarang memasukkan koin. Tapi dasar orang Indonesia, semakin dilarang malah semakin semangat dilakuin. Sumur tersebut dasarnya benar-benar penuh dengan uang koin.

Selesai sudah kunjungan kami ke keraton. Walaupun gak bertemu Sultan, wkwkw, banyak hal menarik lainnya sih yang gak bisa diceritain disini.Overall kunjungan ke keraton ini membukakan mata bahwasannya di tengah kemajuan zaman dan hirup pikuknya keramaian jogja, Keraton masih eksis menjaga kebudayaan Jawa hingga sekarang. Istimewa!

Waktu masih menunjukkan pukul 14.00, kami setidaknya masih bisa mengunjungi satu tempat lagi. Yang mudah diakses dan tentunya yang must have visited untuk yang pertama kali ke Jogja. Pilihan jatuh ke Candi Sewu! Prambanan!