Jogja!

Jauh lebih dekat daripada Kota Surabaya. Jika ditarik garis lurus dari rumah di Ponorogo ke arah barat jaraknya tak sampai 150 kilometer. Yogyakarta(Jogja) bersama dengan Surakarta(Solo) sebagai pusat budaya Jawa Mataraman secara nyata  memiliki pengaruh culture yang kuat terhadap kehidupan masyarakat Ponorogo. Sayangnya, batas administratif provinsi seakan-akan mengaburkan fakta tersebut. Alhasil masyarakat Ponorogo sendiri kebanyakan lebih akrab dengan Surabaya yang merupakan capital dari Jawa Timur daripada kedua kota tersebut.

Hal yang sama berlaku untukku, dari kecil sudah lebih biasa ke Surabaya. Kebanyakan ke Jogja atau Solo cuma numpang mampir, numpang lewat atau numpang makan saja. Belum pernah secara khusus pergi dengan memiliki tujuan akhir kesana.

At least, harusnya sih dulu waktu SD agenda studi tour mainstream-nya ke Jogja dan sekitarnya. Namun waktu itu karena manajemen sekolah bosan tiap tahun kesana, akhirnya malah studi tournya ke Lamongan. Pas SMP, karena kebanyakan siswa lain udah keseringan ke Jogja jadi malah ke Jakarta-Bandung. Nah pas zaman-zaman SMA, Jogja tentu saja udah gak masuk list karena yang dituju pasti Bali(tapi di sekolahku gak ada studi tour sih).

Dulu waktu pas mahasiswa baru, sempet sih rencanain liburan sama teman-teman kuliah ke sana. Sudah fixed siapa aja yang mau berangkat, KTP dan uang tiket udah dikumpulin. Eh ternyata pas beli tiket di stasiun, Gunung Kelud meletus, seluruh kota Jogja ketutup debu vulkanik dan kabar buruknya semua perjalanan kereta api ke arah Jogja dibatalkan. Bubar deh acaranya.

Membonceng agenda Kerja Praktik di salah satu Perusahaan, akhirnya kali ini bener-bener punya kesempatan juga menampakkan kaki di bumi Mataram ini.


Welcome Jogja! 

Kota dimana kearifan lokal kasultanan Ngayogyakarta berpadu dengan semangat kreatif anak-anak mudanya. Kita lihat saja sejauh apa kota ini bersahabat nantinya.