Berkeliling Kompleks Keraton Solo

Jogja dan Solo memang merupakan kota kembar identik. Banyak sekali kemiripan-kemiripan yang ada pada kedua kota ini. Hal tersebut memang tidak lepas dari sejarah keduanya yang merupakan pecahan dari kerajaan Mataram. Jogja dengan keraton Kasultanan dan Pakualaman-nya yang pro pribumi dan Solo dengan keraton Kasunanan dan Mangkunegaran-nya yang memilih berkompromi dengan pihak kompeni.

Di Jogja kami udah berkunjung ke keraton Kasultanan Yogyakarta, nah pas di Solo ini kami juga berniat mengunjungi keratonnya, gak harus masuk keraton sih minimal lihat-lihat sekelilinnya saja. Setelah sebelumnya kenyang makan selat di warung Selat Solo Mbak Lies kami berencana mengunjungi area keraton Solo. Awalnya kami berniat ke sana naik bus, tapi gara-gara gak nemu-nemu busnya, akhirnya berbekal Google Maps di handphone saya dan teman-teman nekat menelusuri area keraton dengan jalan kaki.

Dari jalan Veteran kami masuk melalui pintu gerbang selatan keraton. Hamparan alun-alun selatan nan hijau luas dan lagi-lagi mirip dengan yang ada di Jogja karena ada pohon beringin di tengahnya menyambut kami. Alun-alun ini dilingkupi tembok tinggi dengan hanya menyisakan pintu masuk di ujung utara dan selatan. Apesnya pas kami ditengah alun-alun untuk menyeberang ke utara, langit yang sedari tadi gelap akhirnya mulai hujan. Untungnya kami semua sudah siap payung untuk menghadapi case macam ini.
Hujan d Alun-alun Selatan Solo
Di ujung utara alun-alun, kami mendapati dua kerbau sedang asyik berendam di kubangan lumpur. Kerbau-kerbau ini bukan kerbau biasa karena warnanya tidak gelap. Saya pun langsung menerka-nerka mungkin ini ya yang namanya kebo bule keraton yang keramat itu.

Kebo Bule Keraton Solo

Hujan makin deras, kali ini di pertigaan jalan kami diharuskan memilih jalan ke barat atau timur. Saya kira dari alun-alun tadi peletakan bangunan simetris sehingga milih jalan kanan atau kiri sama saja jauhnya. Saya milih jalan ke kiri dan ternyata tidak saya sadari jalan ini rutenya lebih jauh. Sepanjang jalan yang kami lewati, berdiri tembok-tembok putih khas keraton dengan beberapa pintu masuk rumah yang juga khas. Di beberapa sudut jalan aksara-aksara jawa mendominasi misalnya sebagai papan informasi sekolah. Kompleks keraton ini benar-benar kental aura Jawanya.

Pas jalan ke arah utara, kami menemukan masjid dan akhirnya kami memutuskan sholat Dhuhur disitu sembari menunggu hujan reda. Penduduk lokal yang juga baru saja sholat di masjid  menyambut ramah kami yang basah kuyup terkena hujan dengan penuh senyuman. Setelah hujan agak reda  kami jalan lagi.

Kompleks Keraton Solo
Entah sudah seberapa jauh kami berjalan dan akhirnya ketemu juga pintu masuk keraton Solo ini.

Tak kalah megah dengan keraton Kesultanan Yogyakarta, Pintu masuk keraton Solo ini memiliki bangunan yang khas karena di bagian atas terdapat bangunan yang dulu mungkin berfungsi sebagai menara pengawas. Di depannya berdiri semacam kanopi dengan ukiran jawa bewarna hijau yang khas. Kami langsung mengambil beberapa foto sebagai bukti pernah ke keraton ini. Dan sesuai kesepakatan awal, kami cuma lewat saja dan mengagumi keraton ini dari luar tanpa masuk ke dalamnya.

Pintu Masuk Keraton Solo

Puas dengan keraton Solo, kami kembali berjalan ke arah utara, kali ini kami melewati jalan yang lumayan lebih sempit dan masih dikelilingi tembok tinggi. Di pinggir jalan berjejer tukang reparasi jam. Dari plang yang ada ternyata nama dari tempat atau jalan ini adalah supit urang. Hmm, mungkin karena memang kalau dilihat dari atas jalan ini mirip dengan capitnya udang.

Perlahan jalan ke utara akhirnya kami meninggalkan kompleks keraton. Sebagai gantinya pasar Klewer yang ramai menyambut kami. Menyeberangi alun-alun utara yang juga sudah penuh dengan pedagang akhirnya kami sampai di titik pusat kota Solo dimana patung Slamet Riyadi tegap berdiri.

Rute jalan-jalan kami, ternyata udah 3 kilometer

Di seberang jalan lagi-lagi kami temui rel kereta ....

Saya mengecek jam di handphone, ternyata sekarang masih pukul 13.15. Sejenak saya langsung ingat kalau KA Batara Kresna kan dari SoloKota berangkat pukul 13.39. Dari plang penunjuk jalan yang ada di perempatan tertulis kalau stasiun SoloKota jaraknya sekitar satu kilometer-an dari sini. Aku langsung menarik kedua temanku, ini kesempatan terakhir naik kereta spesial itu. Kami harus bergegas mencapai stasiun itu karena waktu sudah mepet sekali.


SELANJUTNYA
 : Kereta Rasa Trem Railbus Batara Kresna