Mencoba Batik Solo Trans

Jika Jogja punya Bus TransJogja, Kota Solo(Surakarta) juga punya bus-bus yang mengusung konsep BRT(Bus Rapid Transit) juga dengan nama Batik Solo Trans(BST). Keduanya sama-sama memiliki deck tinggi sehingga penumpang tidak bisa naik atau turun sembarangan.

Nah, setelah sebelumnya turun di Stasiun Purwosari, saya dan teman-teman memutuskan untuk ke Selat Solo Mbak Lies dulu. Saya buka peta rute Batik Solo Trans yang sudah saya download jauh-jauh hari sebelumnya. Sayangnya, peta rute Batik Solo Trans yang saya temukan kurang jelas dan detail.

Rute Batik Solo Trans.
Credit : jowonews.com
Namun dari peta itu dapat diketahui ternyata dari Stasiun Purwosari ke Selat Solo Mbak Lies yang ada di Jalan Veteran tidak ada koridor BST yang melayani secara langsung. Satu-satunya cara yang mungkin kami lakukan yaitu naik Koridor 1 dan berhenti di perempatan Jalan Slamet Riyadi - Yos Sudarso kemudian baru jalan ke Selat Mbak Lies-nya. Karena tidak ada pilihan lain, kami ambil pilihan tersebut.

Halte Batik Solo Trans terletak tepat di depan Stasiun Purwosari, salah satu contoh integrasi moda yang cukup bagus menurut saya. Halte-halte Batik Solo Trans ini sebenarnya cukup ikonik dengan dominasi warna merah dengan atap joglo diatasnya. Sayangnya, kondisinya mengenaskan. Terlihat kurang terawat, minim informasi dan tidak semua halte ada yang menjaga. Berbeda dengan halte-halte trans Jogja yang di setiap haltenya pasti ada petugasnya.

Awalnya kami salah masuk halte yang ada di seberang jalan, namun setelah cek peta akhirnya sadar dan kami balik ke halte yang ada di depan Stasiun Purwosari. Di halte yang ini ternyata terdapat petugasnya. Petugas tersebut gak narik tiket, cuma bertugas mengarahkan penumpang saja. Dari baju yang digunakan, baru tahu kalau operator BST di Solo ini ternyata dari DAMRI.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya bus yang kami tunggu datang juga. Bus tersebut merupakan bus Koridor 1 ke arah pusat Solo Kota dengan tujuan akhir Terminal Palur. Ukuran bus tidak terlalu besar, berukuran sedang miri dengan yang ada di Jogja. Lagi-lagi, kondisi crowded kami temui kembali. Saking ramainya, sampai-sampai kami gak kebagian tempat duduk di bus ini.

Bus Batik Solo Trans dengan haltenya yang ikonik.
Credit : jalansolo.com
Setiap penumpang bus dikenai tarif 5000 rupiah jauh dekat, kecuali yang tujuannya ke Bandara dikenai tarif tersendiri. Pembayaran dilakukan di atas bus dan penumpang akan diberi karcis layaknya bus AKAP. Di perjalanan kondektur bus berteriak-teriak sepanjang halte yang dilewatinya baik halte portable maupun halte permanen untuk menanyakan penumpang yang mau turun.

Karena di peta yang aku punya gak ada detail haltenya, aku pantengin terus GPS di HP takutnya nanti kebablasan. Bus melaju terus melewati jalan protokol utama Kota Solo yaitu Jalan Slamet Riyadi. Dari dalam bus, keliatan tempat-tempat yang cukup terkenal di Solo seperti rumah dinas wali kota Loji Gandrung dan Taman Sriwedari. Di sisi kanan jalan, tertanam rel kereta yang aah, jadi sedih teringat udah gak bisa naik kereta di atas track itu.

Overall bus Solo Trans ini sebenarnya cukup nyaman, tapi untuk dibilang BRT sepertinya masih jauh. Pelayanannya tak sebaik TransJogja yang bayar di halte dan bisa transfer koridor tanpa biaya tambahan. Rute-rute koridor dan haltenya pun tidak ada informasi yang jelas. Daripada kayak gini, mending bus BatikSoloTrans ini dijadiin bus kota biasa aja dengan deck rendah sehingga gak harus buang-buang anggaran buat bikin banyak-banyak halte-halte atau cetak karcis.

Kami akhirnya berhenti di halte portable setelah perempatan Jalan Yos Sudarso. Hmmm, agenda jalan-jalan ini sepertinya bakalan jadi benar-benar "JALAN" karena dari sini, Selat Mbak Lies masih 1,5km an lagi dan tidak alternatif lain selain jalan itu sendiri.

SELANJUTNYA : Manisnya Selat Solo Mbak Lies