Kereta Rasa Trem Railbus Batara Kresna

Konon dulu pada masa awal kompeni berkuasa di Indonesia, Solo sempat diproyeksikan sebagai pusat pemerintahan. Letaknya yang strategis dan bisa dijangkau dengan kapal melalui sungai Bengawan Solo merupakan salah satu pertimbangannya. Tak heran saat itu juga Solo merupakan daerah yang cukup maju baik di bidang budaya, sastra maupun infrastruktur. Salah satu bukti kemajuan tersebut adalah keberadaan jalur kereta yang cukup masif di kota ini.

Bersama dengan Surabaya dan Batavia, Solo merupakan kota di Nusantara yang kala itu sudah memiliki moda transportasi trem. Sayangnya pasca zaman kemerdekaan, rel-rel kereta khususnya yang berada di tengah kota banyak yang non-aktif. Satu-satunya jalur yang melewati tengah kota dan yang masih aktif hingga saat ini adalah jalur rel di petak Stasiun Purwosari - Stasiun SoloKota - Stasiun Wonogiri yang melintas di pinggir jalan Slamet Riyadi. Jalur ini saat ini dilayani oleh KA Perintis Batara Kresna yang berdinas 2 kali pp tiap hari.

Rel di Jalan Slamet Riyadi Solo
Credit  : andymse.wordpress.com
Karena uniknya jalur yang dilewati kereta tersebut, mumpung lagi di Solo saya bersikeras untuk mencobanya. Setelah sebelumnya saya dan teman-teman bercapek-capek ria menelusuri komplek keraton, kini demi mendapatkan pengalaman naik kereta tersebut, saya dengan susah payah harus membujuk teman saya untuk berjalan lagi ke arah timur menuju Stasiun SoloKota yang berjarak sekitar 850 meter dari pusat kota Solo.

Di jadwal yang saya peroleh dari internet kereta berangkat dari stasiun SoloKota pukul 13.39 WIB dan saat itu sudah pukul 13.15 WIB. Karena waktu sudah sangat mepet, kami dengan setengah berlari menelusuri jalur rel melewati depan Pusat Grosir Solo dan juga warung-warung makan di depan Benteng Vastenburg. Pas kami jalan, ternyata banyak tukang becak yang mangkal di atas rel, padahalkan seharusnya ada kereta yang lewat bentar lagi.

Rel kereta tadi terus menuntun kami masuk ke perkampungan. Saya terus menyemangati teman-teman untuk bergerak cepat. Wajah mereka sepertinya agak bete juga melihat saya yang memaksakan diri untuk naik kereta tersebut. Perasaan khawatir pun mulai hinggap di pikiran saya, takutnya nanti ketinggalan kereta atau lebih parahnya lagi kehabisan tiket mengingat ini hari Sabtu. Bakal sia-sia perjuangan kami jalan sejauh ini.

Terus berjalan, akhirnya kami sampai juga di Stasiun SoloKota yang berada di tengah pemukiman penduduk. Sampai di sana suasana stasiun sangat sepi, hanya ada beberapa anak kecil yang malah main-main di pinggir rel. Kabar baiknya pas saya tanya tiket KA Batara Kresna masih tersedia atau tidak ke mbak-mbak tellernya ternyata tiketnya masih ada. Alhamdulillah, tidak jadi sia-sia perjuangan kami jalan sejauh ini. Kami langsung pesan 3 tiket ke stasiun Purwosari untuk kereta yang akan berangkat. Harga masing-masing tiket cuma empat ribu rupiah dan uniknya ternyata masih memakai tiket dotmatrix layaknya KAJJ, bukan tiket thermal yang saat ini biasa digunakan untuk KA Lokal.

Stasiun Solo Kota

Stasiun ini tergolong kecil. Hanya ada beberapa petugas yang standby disana. Mereka sepertinya juga tampak senang sekali, ada penumpang seperti kami yang naik dari stasiun tersebut. Kami juga tidak kalah excited dan tidak percaya masih bisa naik kereta ini. Saking bahagianya, sembari menunggu kereta datang dari arah Wonogiri, tak habis-habisnya kami berfoto-foto di stasiun ini. Kalau ke Stasiun Purwosari, Solo Balapan, Solo Jebres kan udah biasa tapi kalau ke Stasiun SoloKota, saya yakin masih banyak orang yang belum tahu keberadaanya.

Rute KA Batara Kresna
Kereta yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Railbus Batara Kresna buatan INKA becorak warna merah itu muncul dibarengi sorak-sorak anak-anak kecil yang sejak tadi main di pinggir rel. Setelah menurunkan seorang ibu-ibu, kami pun langsung naik ke kereta tersebut. Penumpang di dalam kereta cukup ramai namun untungnya masih ada kursi yang tersisa. Kami mencari tempat duduk yang paling nyaman dengan harapan nanti bisa ngelihat luar dengan leluasa.

Tak perlu berhenti lama kereta pun melaju perlahan. Akhirnya momen yang ditunggu-tunggu tiba. Bagaimana bisa kereta ini lewat rel di atas jalan aspal yang sebelumnya lumayan ramai kendaraan. Sepanjang jalan kereta terus membunyikan klakson. Jalur rel yang semula digunakan tukang becak mangkal mendadak steril entah kemana tukang becak tadi pergi.

Keretanya beneran lewat jalan raya!
Semua mata di pinggir jalan perhatiannya tertuju ke kereta ini bahkan ada yang sampai memfotonya. Walaupun tiap hari lewat ternyata masyarakat Solo sendiri sepertinya juga masih merasa aneh dengan keberadaan kereta yang yang menyerupai trem ini. Saya dan teman-teman yang ada di dalam kereta  jadi salah tingkah sendiri diperhatiin orang-orang terus. wkwkwkw.

Sepanjang jalan Slamet Riyadi, kereta melaju sangat pelan. Benar-benar pelan sampai-sampai indikator kecepatan di kereta hanya menunjukan kecepatan rata-rata 16 km per jam. Mungkin takutnya kalau melajunya cepat nanti nabrak sesuatu mengingat jalurnya yang berbagi dengan jalan raya biasa dan kereta yang tidak bisa direm mendadak.

Stasiun SoloKota ke Stasiun Purwosari
Dan benar saja karena ada sesuatu hal kereta ini tiba-tiba berhenti. Saya juga penasaran ada apa. Setelah dicek ternyata di depan ada ranting pohon yang menghalangi jalur kereta. Setelah ranting tersebut dipindah kereta mulai melaju lagi.

Ketika hampir sampai di stasiun Purwosari, kereta membelok ke kanan melintangi jalan. Perjalanan dari Stasiun SoloKota dan Stasiun Purwosari sejauh 6,1 km ditempuh dalam waktu sekitar 18-20menitan. Walaupun singkat, sungguh pengalaman naik kereta ini merupakan pengalaman yang bakal tidak terlupakan mengingat perjuangan sebelumnya dimana saya dan teman-teman harus berlari-lari untuk menuju ke stasiun SoloKota.

Hmmm, kapan ya bisa benar-benar naik trem. Transportasi nyaman dengan tarif yang murah bersubsidi seperti ini benar-benar dambaan masyarakat. Semoga saja rencana trem modern di Surabaya nanti bisa benar-benar terealisasi deh.

End of this trip.
Akhirnya agenda jalan-jalan kami di Solo berakhir dengan happy ending dengan keberhasilan naik kereta rasa trem ini. Ngomong-ngomong kalau diingat-ingat ternyata sejak di Solo tadi kami sudah jalan sangat jauh bahkan sampai berkilo-kilo meter. Mulai dari Jalan Yos Sudarso-Selat Solo Mbak Lies di Jalan Veteran-Keraton-Stasiun Solo Kota. Wah, super sekali! Sungguh agenda jalan-jalan di Solo ini walaupun singkat tapi banyak sekali pengalaman barunya. At last, kami kembali ke Jogja dengan naik si Spongebob Prameks lagi.