Perpustakaan Umum di Jogja - Grhatama Pustaka

Tak heran kiranya jika Jogja dijuluki sebagai kota Pelajar. Banyaknya perguruan tinggi baik milik pemerintah(negeri) maupun swasta berkualitas yang berada di kota ini berhasil menyedot animo para pelajar di seluruh penjuru nusantara untuk menuntut ilmu di disini. Bahkan Presiden kita sekarang pun juga pernah menjadi pelajar pada salah satu kampus terbaik di kota ini.

Sebuah kota yang ter-Pelajar tentunya tak cukup hanya dengan memiliki banyak perguruan tinggi saja. Fasilitas pendukung belajar lainnya juga harus mumpuni. Fasilitas pendukung yang dimaksud adalah Perpustakaan yang merupakan gudang dari jendela dunia. Selama di Jogja, saya berkesempatan mengunjungi dua perpustakaan daerah yaitu perpustakaan milik Pemerintah Kota Yogyakarta dan juga Pemerintah Provinsi DIY.

Perpustakaan Daerah Pemerintah Kota Yogyakarta


Perpustakaan Kota Yogyakarta
Perpustakaan ini merupakan perpustakaan yang hampir tiap akhir pekan saya dan teman-teman kunjungi selama berada di Jogja. Karena letaknya yang tak jauh dari kost kami di sekitar tugu Jogja, kami biasanya berjalan kaki saja dengan menelusuri trotoar sepanjang jalan Jenderal Sudirman untuk menuju perpustakaan ini.

Walaupun bangunannya tidak luas, perpustakaan ini sangat cocok digunakan untuk nongkrong atau kerja kelompok. Di halaman depannya disediakan taman wifi dengan gazebo-gazebo yang luas dan kursi yang nyaman. Di masing-masing gazebo tadi juga disediakan colokan untuk me-charge laptop maupun gadget. Password wifi bisa diperoleh dengan absen di petugas pintu masuk perpustakaan. Sayangnya untuk wifi ini untung-untungan, kalau pas cepet bisalah sampe buat download satu atau dua film. Tapi pas kalau pengunjung perpustakaan banyak seringnya mau login wifi saja susahnya minta ampun.

Untuk koleksi perpustakaannya sendiri, sepertinya memang tak sebanyak perpustakaan daerah Jawa Timur di Surabaya. Karena tempatnya yang kecil, mungkin banyaknya buku yang mampu dimuat hanya belasan rak. Namun, pihak perpustakaan sepertinya menyadari hal ini dengan memberikan fasilitas koleksi audio yang bisa didengar pengunjung dengan komputer yang disediakan. Di bagian ujung bawah tangga, terdapat beberapa komputer yang dapat digunakan pengunjung untuk akses internet gratis. Sayangnya komputer tersebut justru lebih sering disalahgunakan anak-anak usia SD untuk main Game. Di lantai 2 terdapat ruang diskusi yang bisa dipinjam kepada petugas perpustakaan.

Perpustakaan Pemerintah Provinsi DIY - Grhatama Pustaka


Grhatama Pustaka
Saya dan teman-teman tertarik mengunjungi perpustakaan ini karena menurut beberapa berita dan artikel yang saya baca, perpustakaan yang baru diresmikan oleh Sultan Hamengkubuwono X ini katanya merupakan perpustakaan terbesar di Asia Tenggara saat ini. Tak hanya menyimpan koleksi buku saja, perpustakaan ini juga katanya menyimpan berbagai naskah-naskah kuno dari zaman dahulu. Selain itu, katanya lagi perpustakaan ini juga dilengkapi dengan ruang bioskop sekian dimensi.

Untunglah, perpustakaan ini walaupun letaknya tidak di tengah kota namun cukup mudah diakses karena dilewati oleh jalur bus TransJogja koridor 1A, 1B, 3A dan 3B. Persisnya, perpustakaan bernama Grhatama Pustaka ini berada di sebelah Jogja Expo Center(JEC) yang secara administratif sudah masuk wilayah Kabupaten Bantul.

Kesan pertama sewaktu saya kesini adalah bangunannya gedong dan megah namun area sekelilingnya masih gersang. Mungkin belum ada penghijauan karena bangunan baru. Pas kami ke perpustakaan ini hari Minggu, ramainya minta ampun seperti halnya tempat wisata saja. Pengunjung diharuskan absen dahulu sebelum masuk melalui komputer yang berada di depan pintu masuk. Antrian panjang pun tidak terhindarkan karena jumlah komputer hanya 2  dan beberapa pengunjung juga masih awam menggunakannya.

Pas saya mau absen, ternyata aplikasi yang digunakan sama dengan aplikasi perpusda Jatim di Surabaya. Model dan tampilannya pun tak ada yang berbeda kecuali header nama perpustakaan tentunya. Mungkin karena sama-sama perpusda, developer aplikasinya sama. hahaha. Saya pun iseng menggunakan kartu anggota perpusda Jatim di komputer tersebut, siapa tahu memang sudah saling terintegrasi. Eh yang muncul malah nama perempuan yang gak dikenal yang kemungkinan anggota perpustakan ini. Kabur deh, saya pun langsung nyelonong masuk tanpa rasa bersalah. wkwkwk

Masuk ke dalam gedung, aura kearifan lokal Jawa sangat terasa dengan adanya aksara-aksara jawa dan juga ukiran-ukiran kayu setelah pintu masuk. Gedung ini terdiri dari 3 lantai(atau 4? saya lupa). Di tengah-tengah gedung ditanam sebuah pohon besar yang mungkin filosofinya sebagai pohon pengetahuan.

Bagian koleksi buku sendiri ternyata berada di salah satu ruangan di lantai kedua. Uniknya, walaupun bagian ruangan dilapisi karpet, tidak ada rak sepatu di bagian depan ruangan. Sebagai penggantinya setiap sandal atau alas kaki pengunjung dimasukkan ke dalam tas-tas kecil yang telah disediakan dan dibawa masuk ke dalam ruangan. Untuk skala ruangan, lumayan lah besarnya. Koleksinya pun juga lumayan lengkap, saya lihat di bagian sejarah cukup banyak buku-buku yang menarik sehingga saya sampai ingin membacanya disana. Di bagian novel pun juga lengkap, novel-novel populer seperti maze runner the series, mocking jay series dan sebagainya lengkap ada.

Di pinggir jendela, disediakan meja model bar dan kursi tinggi yang bisa digunakan pengunjung untuk menggunakan laptopnya. Di tiap sudut, ada kursi bantal empuk yang sangat menarik dan nyaman sekali digunakan. Untuk wifi, saya gagal terus untuk connect, mungkin karena terlalu banyak pengunjung yang menggunakannya.

Untuk lantai 1 gedung ini terdiri dari beberapa ruang bermain anak dan mushola. Terdapat pula dinding mural dengan gambar warna-warninya yang menarik. Ada pula aquarium ikan koi dan juga aqurium yang berisikan satwa liar seperti ular di sudut-sudut bangunan. Sayang sekali karena ada agenda lain, di Grhatama Pustaka ini kami tidak sempat melihat bagian naskah-naskah kuno atau bioskop sekian dimensi yang banyak diceritakan itu.

Pemerintah Daerah di Jogja baik Pemkot maupun Pemrov sepertinya cukup memberikan perhatian terhadap kotanya yang menyandang gelar kota Pelajar. 2 perpustakaan umum diatas bisa dibilang sudah cukup baik walaupun tentunya masih ada kekurangannya. Semoga saja fasilitas publik seperti ini ke depan semakin banyak dan semakin baik pelayanannya. Syukur deh, kalau kota-kota lain ikut menyusul.