Kereta Komuter Surabaya - Sidoarjo

Jika Jakarta punya Commuter Line dan Jogja-Solo punya Prameks, Surabaya sebagai salah satu kota besar di Indonesia juga punya kereta komuter yang menghubungkan Surabaya dengan kota satelit di sekitarnya. Kereta komuter yang saya maksud tersebut adalah Kereta komuter SuSi (Surabaya - Sidoarjo) dan SuLam (Surabaya - Lamongan). Walaupun masih beroperasi rutin tiap hari, kereta api - kereta api ini sedikit banyak terlupakan oleh masyarakat sehingga keberadaannya tidak sepopuler saudara-saudaranya di Jakarta atau Jogja-Solo. Karena penasaran ingin tahu keadaan kereta tersebut, saya dan teman-teman ingin mencoba naik salah satunya. Kebetulan ada teman yang rumahnya dekat dengan stasiun Tanggulangin. Jadi rencananya naik kereta komuter Surabaya-Sidoarjo sekaligus main-main ke rumah teman saya tersebut.


Jadwal Terbatas

Saya pun mencoba mencari-cari jadwal kereta api komuter Surabaya-Sidoarjo ini, Dan ternyata kereta komuter yang juga dikenal sebagai kereta bernama Delta Express ini hanya berdinas 3 kali pulang pergi setiap harinya. Dibanding dengan kereta Prameks saja yang sudah lebih dari 8 kali PP setiap hari, jadwal ini benar-benar minim. Jadwal kearah Sidoarjo sendiri sangat pagi sekitar sebelum subuh, mungkin bertujuan untuk mengambil penglaju dari Sidoarjo yang akan ke Surabaya. Sedangkan sisa jadwal lainnya ada di sore dan malam hari yang mungkin bertujuan untuk memulangkan penglaju dari Surabaya ke Sidoarjo. Berikut jadwal lengkapnya :

Jadwal Kereta Komuter Surabaya - Sidoarjo.
Sumber : railway.web.id

Berangkat sebelum subuh tentunya terlalu pagi bagi kami, Jadinya untuk ke Tanggulangin dari Stasiun Surabaya Gubeng kami naik kereta api Penataran yang berangkat sekitar pukul 07.30. Kereta ini sebenarnya merupakan kereta lokal dengan tujuan Malang - Blitar.

Tiket Sangat Murah

Setelah selesai silaturahmi dan main-main di rumah teman kami yang ada di Tanggulangin, akhirnya sore harinya kami bisa balik dengan kereta komuter Surabaya - Sidoarjo. Pembelian tiket komuter menggunakan sistem go-show yang hanya dilayani 3 jam sebelum keberangkatan.

Dibandingkan dengan naik kereta Penataran  pada pagi hari tadi yang dari Stasiun Gubeng hingga stasiun Tanggulangin dikenakan tarif Rp. 12.000, harga tiket kereta komuter Susi ini terbilang sangat murah hanya Rp. 5.000. Bahkan kata teman saya sebelum ada penyesuaian tarif setahun lalu harga tiketnya hanya Rp. 2.000 saja.

Stasiun Tanggulangin
Kondisi stasiun Tanggulangin pada saat kami disana cukup ramai mungkin karena kami naiknya pas hari Minggu. Bahkan terlihat ada beberapa Warga Negara Asing (WNA) yang sepertinya ingin mencoba naik kereta komuter ini. Di dinding stasiun terdapat banner sosialisasi kereta api Jenggala yang menghubungkan Sidoarjo dengan Mojokerto melalui stasiun Tarik. Uniknya, kereta api ini justru memiliki jadwal yang lebih banyak daripada kereta api komuter SuSi yaitu sebanyak 6  kali pp tiap hari. Tiket keretanya pun lebih murah hanya Rp. 4.000 saja.

Banner Kereta Api Jenggala di stasiun Tanggulangin.
Kereta Api ini sebenarnya tidak melewati stasiun ini.

Kereta Gado-Gado

Lokasi keberangkatan awal kereta SuSi di Sidoarjo adalah stasiun Porong. Kereta komuter ini sayangnya tiba sedikit terlambat sekitar 10 menit di stasiun Tanggulangin. Mungkin karena sebelumnya ada kereta jarak jauh (KAJJ) yang lewat sehingga dia harus mengalah.

Kereta Komuter Surabaya - Sidoarjo di stasiun Tanggulangin
Ketika tiba di stasiun dan melihat warna kereta komuter ini, pikiran saya langsung teringat dengan kereta Prambanan Ekspress yang memiliki warna kuning. Perbedaanya kereta komuter SuSi tidak seluruhnya bewarna kunung namun terdapat gerbong kereta yang juga bewarna oranye dan putih.

Saya dan teman-teman pun masuk ke gerbong yang tengah. Gerbong ini merupakan gerbong paling sepi diantara 3 rangkaian gerbong kereta SuSi. Dalaman gerbong yang saya naiki ini tak ubahnya seperti kereta Prambanan Ekspress dengan tempat duduk di samping, tanpa AC dan gantungan tangan di tengah.

Gerbong Kereta Kedua Komuter Surabaya Sidoarjo

Saya-pun penasaran mengintip-intip bagian gerbong yang lain. Gerbong kereta yang depan masih memiliki layout kursi yang sama, bedanya di gerbong tersebut terdapat kipas angin pada bagian atap gerbong.

Gerbong kereta pertama kereta lomuter Surabaya - Sidoarjo

Gerbong kereta yang belakang memiliki layout yang sangat berbeda. Di gerbong ini terdapat kursi-kursi layaknya kereta api Batara Kresna. Penumpang pun sebenarnya bebas memilih mau duduk di gerbong yang mana.

Gerbong kereta ketiga lereta komuter Surabaya - Sidoarjo

Tak Hanya Berhenti di Stasiun

Dari stasiun Tanggulangin, kereta melaju pelan ke arah Surabaya. Suara mesinnya cukup berisik dan terkadang gesekan antara roda besi dengan rel sedikit memekakkan telinga. Di setiap stasiun, kereta ini selalu berhenti untuk menurunkan atau menaikkan penumpang. Tak hanya di stasiun, kereta komuter ini juga berhenti di beberapa halte sepanjang Sidoarjo - Surabaya seperti Margorejo, Sawo Tratap , Kerto Menanggal, Ngagel  dst.  Jika stasiun memiliki jalur rel tambahan untuk stabling kereta yang memungkinkan kereta lain untuk menyalip atau bersimpangan, maka pada halte ini jalur rel tersebut tidak ada. Lokasi halte-halte tersebut lumayan strategis, dekat dengan pusat kegiatan seperti perkantoran, sekolah, pabrik atau pemukiman penduduk.

Perjalanan Lama, Kurang Efisien

Kami tiba di Stasiun Gubeng sekitar pukul 17.30 WIB atau sekitar maghrib. Perjalanan dari stasiun Tanggulangin ke Stasiun Gubeng ditempuh dalam waktu lebih dari 1 jam belum termasuk waktu menunggu di stasiun. Jika dipikir lebih jauh, waktu 1 jam ini sebenarnya tidak jauh berbeda apabila kita berkendara dengan sepeda motor, Bahkan waktu tempuhnya bisa lebih cepat apabila naik mobil dengan melewati jalan tol. Dengan jadwal yang terbatas dan waktu tempuh yang lama, pantas saja kereta komuter ini kurang populer di Surabaya walaupun harga tiketnya sangat murah.


Kereta komuter sudah terbukti efektif di kota-kota besar di seluruh dunia untuk mengurangi penglaju yang menggunakan kendaraan pribadi. Namun sayangnya, keadaan komuter di Surabaya ini justru mengenaskan. Di hari weekend saja seperti saat saya dan teman-teman saya naik kereta ini, banyak sekali kursi yang melompong tak berpenumpang. Tak habis pikir bagaimana keadaanya di saat dinas subuh atau malam di hari biasa. Teman saya bahkan pernah bercerita bahwa dia pernah naik kereta dengan isi hanya dua orang saja di kereta.

Keberadaan komuter ini perlu dioptimalisasi karena dengan begitu efeknya bisa mengurangi macet Sidoarjo - Surabaya yang selalu terjadi setiap harinya. Jalur kereta antara Surabaya - Sidoarjo perlu segera ditingkatkan menjadi double track sehingga kereta tidak perlu mengantre atau berhenti lama di stasiun setiap kereta api jarak jauh lewat. Alhasil waktu tempuhnya pun dapat lebih singkat. Perlu juga dibuat transportasi yang terintegrasi antara stasiun di Surabaya misal Gubeng dan Wonokromo dengan pusat kegiatan masyarakat di Surabaya Timur dan Barat yang hingga saat ini tidak tersentuh oleh jalur kereta. Dan terakhir jadwal nya pun harus diperbanyak sehingga penumpang bisa memiliki lebih banyak pilihan. Semoga saja semua itu dapat terwujud, sedih sekali rasanya melihat halte-halte yang dulu dibangun khusus demi komuter ini tiap hari selalu sepi.