Bareng Bule Naik Angkot/Lyn S

Layaknya mahasiswa daerah ITS yang baru balik dari pulang kampung dan tidak ada kendaraan sendiri, hari ini saya naik Lyn S untuk balik ke kos-kosan saya yang berada di daerah Keputih. Angkot atau Lyn S memang menjadi andalan para mahasiswa sekitaran ITS karena rutenya yang paling dekat mengarah dengan daerah kampus.

KLIK DISINI  untuk langsung melihat rute angkot/lyn S

Sebenarnya sih saya lebih memilih naik GO-JEK karena selain tidak perlu desak-desakan dan panas-panasan di angkot, sampainya juga jauh lebih cepat dan bisa diantar sampai depan pintu gerbang kos. Sayangnya GO-JEK tidak sedang ada promo sehingga terpaksa deh untuk menghemat pengeluaran kali ini naik angkot saja.

Deretan angkot / bemo / lyn S di Terminal Bratang (suarasurabaya.net)

Di terminal Bratang, setelah turun dari bus kota saya langsung menuju ke deretan Lyn S berwarna biru tua yang sudah mengantre menunggu penumpang. Pas saya mau masuk ke angkot, surprise ternyata di dalamnya sudah ada pasangan bule yang sepertinya dari tadi sudah kepanasan gara-gara kelamaan menunggu angkot itu jalan.

Untung saja, saya tak perlu nunggu lama karena angkot langsung penuh mendapat limpahan penumpang dari bus kota sebelumnya. Penumpang angkot yang saya tumpangi ini didominasi oleh mahasiswa-mahasiswi, maklum sih besok merupakan hari pertama masuk kuliah.

Berdesakan dengan penumpang-penumpang tersebut, bule tadi setelah saya perhatikan sepertinya merupakan tipe bule backpacker, terlihat dari tampilannya yang casual dan membawa tas backpack gede.

Pertanyaannya? Kemana sih bule ini mau pergi? Masak sih mau ke pantai Kenjeran? Ah gak mungkin.

Surabaya selama ini kan bukan kota pilihan wisata layaknya Bandung, Jogja ataupun Bali. Sekian tahun di Surabaya saya hampir tidak pernah melihat bule berkeliaran apalagi sampai naik angkot kayak gini.

Beberapa saat setelah angkot mulai jalan dan melewati depan Jalan Manyar, si bule yang cowok tiba-tiba berteriak ke seluruh penumpang.

"Hello! Is this will pass Klampis?"

Sejenak seluruh penumpang terdiam termasuk saya. Sebenarnya sih saya ogah-ogahan jawab, toh disini isinya hampir semua mahasiswa pasti pahamlah dan ada yang bersedia membantu, at least yang duduk paling dekat harusnya dia yang paling bertanggung jawab. Tapi hingga kedua kalinya si bule nanya tak ada satupun yang jawab. Akhirnya daripada dikira orang Indonesia gak bisa bahasa Inggris dan juga ilmu bahasa Inggris saya yang sudah dipelajari semenjak SD gak sia-sia saya beranikan diri jawab dengan terbata-bata.

"Yes, this is will pass Klampis". 

Si Bule langsung nunjukin catatan di smartphone-nya ke saya. Disitu tertulis salah satu alamat toko di Ruko Klampis Square. Sedikit iseng saya ngeliat tulisan lain di catatan itu yang tertulis tentang "Jombor". Oh, nih bule pasti barusan dari Jogja saya pikir.

"Do you know the address?" Si bule nanya lagi ke saya. 

Jujur, saya gak tahu lokasi toko  di alamat itu, tapi saya yakin kalau Ruko tersebut didaerah Klampis yang bakalan dilewati angkot ini.

"I don't know the place exactly, but this is will pass Klampis". 

"Ok, notice me if we near the place". Si bule jawab

Sayapun mengiyakan.

"Ok... ok sir".

Sepanjang perjalanan melewati Jalan Menur Prumpungan si bule mulai bercakap-cakap dengan pasangannya. Tidak menggunakan bahasa Inggris jadinya saya tidak paham apa yang dibicarakan. Tidak pula dengan Bahasa Belanda, karena kalau bahasa Belana mungkin saya sedikit-sedikit bakalan tahu vocabulary-nya. Jadi bisa saya simpulkan mungkin bule ini dari kawasan Eropa  Timur. Saya-pun di dalam hati mulai menyusun kata-kata yang pas buat jelaskan tempat dimana bule ini harus turun. Akhirnya ketika angkot sudah mulai memasuki daerah Klampis di jalan kembar Arief Rahman Hakim dekat ITATS saya mulai berbicara.

"Sir", si Bule langsung noleh ke aku

"Klampis is near next junction. You just need to go left. Klampis Square is around there. Just ask someone overthere."

"Oh..." si Bule menjawab. 

Dia pun langsung bergegas membawa semua barang-barangnya. Setelah perempatan saya membantu membunyikan tombol berhenti lyn yang kebetulan berada di atas kepala saya. Si bule dengan susah payah menembus desak-desakan penumpang akhirnya turun dari angkot dan bilang "Thank you" kepada semuanya.

Angkot kembali melaju ke arah ITS dan Keputih. Dari kejauhan dalam hati saya agak khawatir apakah bule ini bisa menemukan alamat yang dia tuju atau tidak. Semoga saja ketemu orang yang baik yang tanpa segan membantu.

Hmm, ironi memang, kota Surabaya yang merupakan kota terbesar kedua di Indonesia ini masih mengandalkan angkot sebagai transportasi umum utamanya. Kasihan sekali pengunjung macam bule tersebut yang harus desak-desakan di angkot macam negara dunia ketiga saja. Saya sendiri walaupun bukan penduduk asli Surabaya juga agak malu ngelihatnya. Semoga saja suatu saat nanti bakalan ada transportasi modern di Surabaya yang nyaman dan terjangkau sehingga lebih ramah kepada pendatang dan wisatawan.

Rute Lyn / angkot S dari Terminal Bratang Surabaya



Terminal Bratang - Jln. Bratang Binangun - Jln. Bratang Jaya - Poltek Ubaya - Jalan Raya Manyar - Bunderan D4 Sipil ITS Manyar - Jln. Menur Prumpungan - STIESIA - Klampis - ITATS -  MERR - Puter Balik di depan Hartono - Jln. Arif Rahman Hakim - ITS Belakang (Medical Center / Asrama / Perumdos) - Keputih - Jln Kejawan Gebang - Laguna (East Coast Center / Pakuwon) - Bunderan ITS Timur - Jln Raya Mulyosari - Kenjeran

Rute Lyn / angkot S dari Kenjeran

Kenjeran - Mulyosari - Bunderan ITS Timur - Laguna (East Coast Center / Pakuwon) - Jln. Kejawan Gebang -  Keputih - Jalan Arief Rahman Hakim - ITATS - Klampis - Jln. Menur Prumpungan STIESIA - Jln. Manyar Kartika VIII - Jln. Raya Manyar - Terminal Bratang