Blusukan Menjelajah Malang Selatan

Secara administratif, luas Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang sangatlah luas. Dari kawasan dataran tinggi di wilayah perkotaan sisi utara hingga kawasan pesisir di pantai selatan. Karena itu menjelajah Malang merupakan hal yang seakan tidak ada habisnya.

SEBELUMNYA  Omah Kayu di Bukit Paralayang Malang

Saya dan teman saya memutuskan untuk ke Pantai Balekambang. Keputusan yang tegolong sangat nekat karena waktu sudah tengah hari dan kami masih berada di atas kota Batu. Dari pusat Kota Malang saja, Pantai Balekambang jaraknya lebih dari 65 km, belum ditambah perjalanan dari Kota Batu ke kota Malang serta menembus macetnya perkotaan Malang. Entahlah, sampai tidak sampai kami tetap ingin mencoba kesana.

Kota Malang ke Kepanjen


Dari Kota Malang, teman saya yang sudah pernah ke Pantai Balekambang menyarankan untuk melewati Kepanjen. Jarak antara kota Malang dan ibu kota Kabupaten Malang ini sekitar 20 km. Karena kami melakukan perjalanan pada siang hari, jalanan menuju Kepanjen lumayan ramai. Sepanjang perjalanan, banyak bus dan truk besar yang lewat karena jalur ini merupakan jalur provinsi yang menghubungkan kota Malang dengan daerah-daerah di selatan. Kondisi jalanannya sendiri cukup mulus walaupun di beberapa titik terlihat berlubang. Di Kepanjen, kami mampir sejenak di salah satu Indomaret untuk membeli beberapa makanan ringan sembari beristirahat.

Tersesat di Pagak


Dari Kepanjen kami terus mengarah ke selatan. Jalanan mulai sepi karena kebanyakan kendaraan sebelumnya berbelok ke arah barat atau menuju Blitar. Jalan pun mulai menanjak dan berkelok-kelok. Pemandangan pegunungan dan lembah yang indah pun mulai terlihat di kiri-kanan. Hawa dingin menyeruak ditambah cuaca yang dari tadi selalu mendung.

Selepas melewati PLTA Sengguruh , teman saya mulai merasa ada yang aneh karena dia rasa-rasanya tidak pernah melewati jalan ini. Beberapa kali kami bertanya kepada orang di jalan apakah jalan ini merupakan jalan ke Pantai Balekambang dan anehnya setiap orang yang kami tanya selalu mengiyakan. Pikir saya, berarti kami masih on the track, mungkin teman saya saja yang lupa. Kami pun terus melaju mengikuti petunjuk jalan yang ada karena memang tertulis ke Pantai Balekambang.

Celakanya, pada saat kami sampai di daerah Pagak, terdapat badan jalan yang longsor. Jalan tersebut ditutup untuk perbaikan. Seluruh kendaraan yang lewat melalui jalan ini terpaksa dialihkan ke jalan desa. Kamipun mengikuti jalan desa yang dimaksud. Jalanan berupa makadam yang bergeronjal, sempit dan curam terpaksa harus kami lewati. Beberapa kali kami harus berhenti karena bergantian dengan kendaraan besar yang lewat dari depan. Di setiap persimpangan jalan terdapat penduduk lokal sembari membawa kaleng sumbangan memberi tahu kemana kami harus berbelok selanjutnya. Kami terus mengikuti rute seperti yang diarahkan.

Lebih dari 30 menit berputar-putar di jalanan desa, kami tidak kunjung kembali ke jalan besar atau jalan utama. Sampai-sampai pada suatu persimpangan yang sepi kami hampir salah belok karena tidak ada yang menjaga. Untunglah pas ada penduduk yang lewat sehingga kami bisa bertanya arah jalan yang benar. Setelah muter-muter tidak karuan akhirnya kami bisa kembali ke jalan utama melewati kawasan longsoran.

Perempatan Bantur


Teman saya semakin yakin jika kalau dia tidak pernah melewati jalur ini dan sepanjang perjalanan selalu mengomel-ngomel. Perjalanan serasa sangat jauh dan seakan tidak sampai-sampai. Hingga akhirnya kami tiba di perempatan Bantur. Di titik ini teman saya baru tercerahkan kesalahan jalan yang kami ambil dimana seharusnya di sekitaran PLTA kami harusnya belok kiri sehingga tidak perlu melambung melewati kawasan Pagak yang membuat perjalanan semakin jauh.

Dari perempatan Bantur kami belok kiri, setelah beberapa kilometer melaju kami belok kanan mengarah ke selatan sesuai pentunjuk yang ada. Saya kira kami sudah dekat dengan tujuan namun ternyata lagi-lagi kami tidak kunjung sampai. Kondisi jalan memburuk dan banyak sekali jalan berlubang atau yang belum diaspal sempurna. Walaupun saya sudah ekstra hati-hati dalam menyetir acapkali tetap terjerembab ke jalan berlubang. Teman saya tak hentinya kembali mengomel-ngomel.

Setelah berjuang dengan jalan yang kondisinya seperti itu kami sampai juga di perempatan jalan besar. Sepertinya ini merupakan Jalur Lintas Selatan yang masih dalam proses pembangunan. Teman saya langsung gembira karena mengenal perempatan ini. Dari titik ini berarti pantai Balekambang sudah sangat dekat. Jalan yang mengarah ke barat terlihat masih buntu. Kami yang dari utara langsung bablas ke selatan melewati perempatan. Akhirnya setelah 3 jam berkendara, Pantai Balekambang yang kami tuju sudah berada di depan mata.

BACA : Eksotisme Pantai Balekambang

Kembali ke Kota Malang lewat Gondanglegi


Kami tidak lama di Pantai Balekambang karena hari sudah terlampau sore, sudah lewat pukul 4. Kemalaman di pelosok Malang dengan baterai handphone sekarat ditambah cuaca yang cenderung tak bersahabat sejak pagi tentu bukan kondisi yang menarik. Untuk perjalanan balik, kami tidak akan mengulangi kesalahan yang sama ketika berangkat yang harus blusukan dan sampai nyasar di daerah Pagak. Kami akan lewat jalan yang benar yaitu melewati Gondanglegi.

Dari perempatan Jalan Lintas Selatan selepas akses masuk pantai Balekambang kami belok kanan. Setelah itu kami cukup mengikuti jalan dan rambu-rambu yang ada. Di jalur ini kondisi jalan benar-benar mulus dan bisa dibuat ngebut. Jarang sekali ada jalan yang berlubang. Suasana jalan juga lebih ramai dan hidup.

Aaah, tahu begini kenapa tadi tidak lewat sini saja pikir saya. Dengan kecepatan rata-rata 50 hingga 70 km/jam, Sekitar pukul 5 lebih saya bahkan sudah sampai di Gondanglegi. Kami berhenti sejenak di Masjid Agung Gondanglegi untuk Sholat Ashar.

Kemudian kami langsung tancap gas ke arah utara untuk kembali ke Kota Malang. Hujan mulai menyambut kepulangan kami. Tapi untunglah cuma hujan gerimis jadi kami tetap tembus saja. Di beberapa tempat terdapat air yang menggenang. Sepertinya baru saja hujan lebat mengguyur daerah sini. Dengan susah payah menembus gerimis, kami tiba di Kota Malang sekitar pukul 6 atau setelah adzan Magrib.

Alhamdulillah, perjalanan kami hari ini usai dengan selamat. Sungguh perjalanan yang tidak  akan terlupakan. Blusukan hingga nyaris tersesat di Malang Selatan.


Rute dari Omah Kayu Paralayang di Batu - Malang hingga Pantai Balekambang yang kami tempuh
Sumber : Google Maps

Pukul 20.10 saya kembali ke Surabaya dengan kereta Penataran terakhir.