Omah Kayu di Bukit Paralayang Malang

Tiap akhir pekan, macet adalah hal yang sudah nyaris pasti terjadi di jalan menuju arah Malang dari Surabaya. Dinginnya Malang memang menjadi magnet yang kuat bagi warga Surabaya yang tiap harinya sudah muak dipanggang terik metropolitan pesisir untuk berbondong-bondong mendinginkan diri dan pikiran ke Malang. Hal inilah yang juga membuat saya selalu bersemangat kalau main-main ke Malang. Apalagi kali ini teman saya mengajak saya ke salah satu tempat wisata hits yang berudara dingin, Puncak Bukit Paralayang.

SEBELUMNYA Menyewa Sepeda Motor Murah di Malang

Setelah saya dijemput di Stasiun Malang menggunakan sepeda motor yang telah kami sewa, saya mampir ke kost teman saya dulu untuk sarapan. Untungnya kost teman saya letaknya di Tlogomas jadi searah dengan Bukit Paralayang yang kami tuju. Selesai sarapan kami langsung cus ke arah Bukit Paralayang.

Akses ke Bukit Paralayang Mudah

Wisata Bukit Paralayang sendiri terletak di sekitar pebatasan antara Kota Batu dan Kabupaten Malang. Dari Kota Malang, kami tinggal lurus saja mengikuti jalan utama menuju Kota Batu. Setelah melewati perkotaan dan pusat pemerintahan kota Batu (gedung walikota), jalanan mulai berkelok-kelok dan naik turun walaupun tidak terlalu tajam. Sepanjang pinggir jalan, jejeran warung-warung kopi dan rindang serta hijaunya pegunungan menemani perjalanan kami.

Rute ke Wisata Bukit Paralayang dari Stasiun Malang Kotabaru
Sebenarnya jalan ini merupakan jalur provinsi yang menghubungkan Malang Raya dengan Pare, Kediri dan Jombang. Kondisi jalan lumayan bagus dan terawat, terbukti pas lewat beberapa kali saya menemukan pekerja yang sedang melakukan perbaikan atau peningkatan jalan. Selain Bukit Paralayang, di daerah ini juga ada tempat wisata lain seperti air terjun Coban Rondo dan Kawasan Songgoriti.

Hal yang perlu diperhatikan disini adalah ketika akan memasuki perkampungan sebelum Bukit Paralayang. Kami harus belok kanan tepat di tikungan jalan utama yang mengarah ke kiri. Di sini saya hampir kebablasan, untungnya teman saya yang sudah tahu lokasi memberi tahu saya. Dari titik ini, petunjuk ke arah Bukit Paralayang lumayan jelas terpampang di tiap pertigaan dan perempatan. Menaiki bukit, jalan lumayan menanjak dan licin.

Tiket Masuk Bukit Paralayang Terjangkau

Memasuki kawasan wisata sudah terdapat pos petugas yang menjaga. Tiap pengunjung dikenai tiket sebesar Rp. 5000 saja ditambah Rp. 5000 lagi untuk parkir sepeda motor. Dari tiket yang diberikan saya baru tahu bahwa bukit ini sebenarnya bernama Gunung Banyak yang dimiliki oleh Perhutani. Bagi yang ingin melakukan olahraga paralayang, bisa mendaftar counter desk tersendiri, sayangnya saya nggak bertanya biayanya berapa, yang pasti lumayanlah merogoh kocek.

Pemandangan dari Bukit Paralayang Keren

Pemandangan hamparan lembah nan hijau benar-benar terlihat keren dari atas bukit. Rumah-rumah penduduk dengan jalan dan kendaraan di depannya terlihat kecil namun manis.


Pemandangan dari atas bukit
 Sebaliknya mendung-mendung yang menyelimuti perbukitan terasa sangat besar dan dekat.

Did you see any rabbit here?
Kata teman saya, kalau malam hari pemandangannya juga tak kalah keren dengan taburan gemerlap lampu-lampu. Puncak bukit sendiri sudah dipaving, jadi tidak perlu takut terpeleset ke bawah. Walaupun ini hari Senin, ternyata pengunjung bukit ini lumayan ramai dan gak cuma anak-anak muda saja. Banyak pengunjung yang merupakan rombongan keluarga.


Berkunjung ke Rumah Kayu

Selain pemandangan keren dari atas bukit tadi, masih ada lagi spot yang menarik di sini, yaitu omah kayu. Letaknya agak terpencil jadi mungkin banyak pengunjung yang tidak mengetahuinya. Pas saya dan teman saya masuk, ternyata ada petugas lagi yang menjaga. Untuk masuk ke area omah kayu ini pengunjung dikenakan lagi tiket Rp. 5000, masih lumayan terjangkaulah.

Jalan menuju rumah kayu ini lumayan agak susah, karena selain sempit juga terletak di tebing yang licin. Apalagi kondisi saat itu habis hujan. Bentuk omah kayunya lumayan unik dan kecil seperti rumah kurcaci di film-film.

Rumah Kayu Kecil di Bukit Paralayang
Area ini sangat rindang dan dipenuhi pohon-pohon pinus yang tinggi. Di tiap pohon tadi diberikan semacam emperan yang terbuat dari kayu. Di sini lah sebenarnya spot yang paling banyak dicari karena cocok buat ngobrol dan foto-foto. Pas saya di sana, malahan terdapat pasangan yang lagi melakukan foto prewedding. Bikin baper saja, wkwkwk.

Pohon-pohon dengan emperan kayu-nya

Letaknya yang berada di bawah pohon rindang, membuat suhu di sini benar-benar dingin apalagi cuacanya mendung. Pemandangan ke bawah juga cukup keren. Saya dan teman sayapun akhirnya betah berlama-lama nangkring disini sembari ngobrol ngalor-ngidul.

Bergelantungan disini. (Upzz, bukan iklan sandal, haha)

Fasilitas Lumayan Lengkap namun Toilet Air Tidak Nyala

Saya keluar dari rumah kayu ketika matahari sudah di atas ubun-ubun. Sebelum melanjutkan ke tempat lain kami sholat Dzuhur dulu di mushola yang terletak di dekat parkiran. Mushola nya tidak terlalu besar namun cukup bersih. Sayangnya toilet umum yang terletak di sampingnya tidak bisa digunakan dengan alasan air tidak mengalir. Selain mushola, juga ada penginapan dan warung-warung yang menyediakan makanan di sini.

Overall, Bukit Paralayang ini seru banget dikunjungi karena selain banyak spot menarik kondisi alam nya juga keren dan membuat betah berlama-lama. Mungkin yang perlu dibenahi pasokan air dan jalan akses saja menuju wisata. Buat yang main-main ke Malang sangat recomended untuk main-main kesini.



Saya dan teman saya sebenarnya tidak tahu mau kemana lagi setelah ini karena awalnya kami hanya merencanakan ke Bukit Paralayang saja. Ke tempat-tempat wisata mainstream seperti Jatim Park tentunya bukan merupakan pilihan karena tiket masuknya yang lumayan ngeri. Teman saya pun menawarkan gimana kalau ke Pantai Balekambang karena dulu dia pernah KKN di dekat daerah tersebut. Saya sebenarnya tertarik tapi....

What? Pantai Balekambang?
Bukannya letaknya jauh sekali di Malang selatan sana? Apakah nutut pikir saya. Gimana kalau di tengah jalan hujan? Gimana kalau kesasar? Gimana kalau kemaleman? Gimana kalau ... 

Ah, akhirnya karena buntu gak ada pilihan lain saya buang semua kekhawatiran saya dan sepakat untuk nekat  berangkat kesana, entah sampai tidak sampai itu urusan nanti, yang penting jalan-jalanlah. hahaha.

Kalau dipikir secara rasional sih benar-benar nekat. Saya sekarang masih berada di puncak bukit dan pantai Balekambang berada di ujung pesisir selatan sana berpuluh-puluh kilometer jauhnya, semoga saja tak ada halangan dan kami bisa sampai kesana.